Dinas Kesehatan Soroti Rendahnya Cakupan Imunisasi Anak di Aceh

Share

Provinsi Aceh menghadapi tantangan besar dalam kesehatan anak setelah tercatat sekitar 281 ribu anak masuk kategori zero dose atau belum pernah menerima imunisasi sama sekali sepanjang periode 2021-2025. Data mengkhawatirkan ini menempatkan Indonesia di peringkat keenam global dalam kasus anak tanpa vaksinasi dasar rutin, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Kondisi ini menempatkan Aceh dalam jajaran tiga wilayah terbawah secara nasional untuk capaian imunisasi bayi lengkap pada tahun 2025. Penurunan performa kesehatan ini menjadi sorotan tajam karena sangat kontras dengan rekor masa lalu Provinsi Aceh pada tahun 1994 yang sempat menyentuh angka cakupan 99,9 persen.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Ferdiyus mengungkapkan kekhawatirannya mengenai capaian imunisasi pada bayi usia 0-11 bulan yang sangat rendah di wilayahnya pada hari Kamis (21/5/2026).

"Pada usia 0-11 bulan, hanya mencapai 34,3 persen," kata Ferdiyus dalam sambutannya saat media briefing bertajuk 'Mengejar Anak Zero Dose Imunisasi di Kota Banda Aceh', Kamis (21/5/2026).

Ferdiyus juga membeberkan bahwa keengganan terhadap program kesehatan ini ternyata tidak hanya terjadi pada masyarakat awam, melainkan juga merambah hingga ke lingkungan internal pekerja medis sendiri.

"Yang paling sedih lagi kita, masih ada anak-anak daripada tenaga kesehatan yang tidak mau juga diimunisasi. Masih terdapat di lapangan," tutur Ferdiyus.

Faktor utama penyebab rendahnya cakupan imunisasi ini kemudian dijabarkan secara rinci oleh pihak dinas kesehatan tingkat kota yang mengidentifikasi adanya kendala komunikasi serta pola pengambilan keputusan di dalam keluarga.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Nuraihan menjelaskan bahwa hasil survei bersama antara Universitas Indonesia dan Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh dan Kabupaten Pidie pada akhir tahun 2025 mengungkap alasan kuat penolakan tersebut.

"Alasan penolakan kenapa? Belum diberikan izin oleh ayahnya," kata Nuraihan.

Nuraihan memaparkan lebih lanjut mengenai dominasi peran ayah dan nenek dalam keputusan medis keluarga di Aceh, di mana kekhawatiran terhadap efek samping jangka pendek seperti demam pascavaksinasi membuat para ayah enggan mengambil risiko demi kenyamanan istirahat mereka.

"Ditemukan dari hasil kuesioner itu kekhawatiran terhadap reaksi vaksin. Jadi si ayah nggak mau ambil risiko. Dia pulang kerja di sore hari, kemudian paginya di posyandu anaknya di imunisasi, anaknya demam, rewel," kata Nuraihan.

Metode pemberian vaksin yang melibatkan multi injeksi atau suntikan ganda sekaligus juga diakui menjadi tembok penghalang bagi para orang tua untuk membawa anak mereka ke fasilitas kesehatan.

"Ayah tidak bisa beristirahat dengan tenang. Inilah yang menyebabkan si ayah menolak anaknya untuk imunisasi," sambungnya.

Penolakan yang masif dan terus-menerus dari lingkungan masyarakat ini pada akhirnya berdampak langsung pada kondisi psikologis serta motivasi para petugas medis di lapangan.

"Sudah segala macam (usaha), tapi tetap penolakan di masyarakat, sehingga kadang-kadang petugas kami agak-agak patah hati," tutup Nuraihan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author