Pemerintah Ceuta Minta Kedaruratan Nasional Atasi Lonjakan Migran

Share

Pemerintah daerah Ceuta di Afrika Utara meminta pemerintah pusat Spanyol menyatakan keadaan darurat nasional dan mengerahkan militer guna mengamankan perbatasan dengan Maroko pada Kamis (30/07). Langkah ini diambil setelah ribuan migran menerobos pagar serta berenang melintasi batas wilayah.

Gelombang kedatangan massal tersebut membuat fasilitas penampungan migran kewalahan dan memicu insiden berdarah. Seperti dilansir dari Detikcom, otoritas setempat melaporkan sedikitnya sembilan orang tewas di lepas pantai dalam kurun waktu beberapa hari terakhir.

Pemerintah Spanyol merespons tuntutan tersebut dengan berjanji memperkuat pengawasan perbatasan. Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengonfirmasi pengerahan personel angkatan bersenjata ke wilayah eksklave tersebut.

"Angkatan bersenjata akan memperkuat Guardia Civil dalam menjalankan kewenangannya serta tindakan lain yang mungkin diperlukan untuk menjaga keamanan sipil di kota Ceuta," ungkap Kementerian Dalam Negeri Spanyol.

Aksi penyeberangan massal tersebut terekam dalam video yang memperlihatkan kerumunan warga memanjat pagar perbatasan dan memanfaatkan alat apung darurat dari perairan Maroko. Asosiasi petugas keamanan mencatat tekanan migrasi ekstrem terus meningkat di pos pemeriksaan.

"Situasinya benar-benar kacau balau," kata Rachid Sbihi, Ketua Asosiasi Guardia Civil Spanyol di Ceuta.

Sbihi menambahkan bahwa jumlah pasti warga yang melintas belum dapat dipastikan akibat tingginya arus kedatangan.

"Tidak mungkin memberikan angka pasti, tetapi kami memperkirakan ada ribuan migran yang menyeberang," lanjut Rachid Sbihi.

Kepala Pemerintah Daerah Ceuta menekankan bahwa kapasitas wilayahnya tidak lagi mampu menampung arus kedatangan yang terus melonjak. Rapat dewan kota menghasilkan kesepakatan bulat untuk mendesak intervensi militer penuh dari Madrid.

"Kemarin, saya angkat bicara untuk memperingatkan betapa seriusnya krisis migrasi yang sedang kita hadapi," tulis Juan Jesus Vivas, Kepala Pemerintah Daerah Ceuta.

Ia menjelaskan bahwa kondisi di lapangan kian tidak terkendali seiring bertambahnya korban jiwa dan kedatangan ratusan orang setiap malam.

"Hari ini, hanya beberapa jam kemudian, situasinya bahkan lebih kritis, ada kedatangan massal pada malam hari, hampir seribu orang menunggu di luar CETI. Sumber daya kami benar-benar kewalahan, dan satu nyawa lagi hilang di laut," ungkap Juan Jesus Vivas.

Vivas menegaskan bahwa wilayah berpopulasi 85.000 jiwa tersebut sedang mengalami krisis kemanusiaan yang membutuhkan penanganan skala nasional.

"Kami tidak mampu menghadapi tekanan ini sendirian, tekanan yang telah mengakibatkan kedatangan antara 1.500 hingga 2.000 orang hanya dalam 10 hari, setara dengan 2% dari populasi kami," kata Juan Jesus Vivas.

Ia mengingatkan bahwa keterlambatan penanganan akan memperburuk kondisi sosial dan keamanan wilayah Ceuta.

"Setiap jam yang berlalu, situasi menjadi semakin sulit," tulis Juan Jesus Vivas.

Perdana Menteri Spanyol memastikan komitmen pemerintah pusat untuk memulihkan stabilitas perbatasan secepat mungkin. Madrid berkoordinasi dengan otoritas Maroko guna memulangkan warga yang masuk secara tidak sah.

"Kami sedang mengerahkan semua sumber daya yang diperlukan, bekerja sama dengan pihak berwenang Maroko dan internasional, serta mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan keadaan menjadi normal secepat mungkin," tulis Pedro Sanchez, Perdana Menteri Spanyol.

Sanchez menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif antarnegara dalam mengatasi krisis perbatasan ini.

"Inilah saatnya untuk membangun solusi, dengan penuh tanggung jawab dan kerja sama," kata Pedro Sanchez.

Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska dijadwalkan meninjau langsung situasi perbatasan Ceuta pada Jumat (31/07). Sementara itu, kebijakan amnesti migran Spanyol mendapat kritik tajam dari Italia yang menilai aturan tersebut memicu lonjakan penyeberangan ilegal di kawasan Eropa.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author