Korban Jiwa Gempa Kumamoto Jepang Melonjak Jadi 34 Orang
Jumlah korban tewas akibat gempa bumi kuat yang mengguncang wilayah Kumamoto di Pulau Kyushu, Jepang, meningkat menjadi 34 orang pada Kamis (30/7). Petugas penyelamat kini terus berjuang menembus reruntuhan bangunan di tengah gelombang panas ekstrem.
Badan penanggulangan bencana Kumamoto melaporkan tujuh jenazah baru diekstraksi dari reruntuhan pusat perbelanjaan Aeon di Kashima pascadugaan ledakan gas. Sementara itu, delapan korban tewas lainnya terkonfirmasi di pabrik Nippon Paper Industries di Kota Yatsushiro.
Gempa bermagnitudo 7,1 yang terjadi dua hari sebelumnya tersebut menyebabkan lima orang berada dalam kondisi kritis. Lebih dari 9.500 warga terpaksa mengungsi ke pusat-pusat pengungsian darurat di wilayah barat daya Jepang.
Bencana ini merusak berbagai infrastruktur, meruntuhkan rumah, merusak jembatan, dan memicu kebakaran. Sebanyak 13.520 rumah tangga masih mengalami pemadaman listrik di tengah lonjakan suhu udara yang diprediksi mencapai 38°C.
Ratusan warga lansia terpaksa tidur di atas matras tipis di lantai aula masyarakat Kota Uki untuk mengungsi. Salah satu warga pengungsi yang enggan disebutkan namanya memberikan kesaksian mengenai kondisi tersebut.
"Bersyukur atas adanya tempat pengungsian ini," kata seorang wanita pengungsi kepada AFP.
Ia menambahkan bahwa berdiam diri di rumah atau kendaraan terasa sangat tidak memungkinkan akibat cuaca buruk.
"Di rumah atau di dalam mobil terasa terlalu panas dan terlalu banyak nyamuk," kata wanita pengungsi tersebut kepada AFP.
Ia menegaskan situasi sulit yang dihadapi para warga tak berdaya tanpa aliran listrik.
"Dalam cuaca panas seperti ini, jika Anda tidak memiliki listrik dan pendingin udara, rasanya sangat berat," kata Hiroyuki Matsushima, seorang pekerja supermarket berusia 53 tahun dan ayah dari empat anak, kepada AFP.
Kondisi serupa dialami warga senior lainnya yang terpaksa menjadikan kendaraan pribadi sebagai tempat bernaung sementara malam hari.
"Gempa ini sangat kuat. Ini mengerikan … Saya hanya bisa tidur sekitar dua jam di malam hari," kata Kenji Ota, seorang pensiunan berusia 72 tahun.
Kerusakan parah juga melanda Kota Hikawa di mana banyak bangunan tua hancur total dan fasilitas dasar terputus.
"Masalah terbesarnya adalah tidak ada toilet … Saya harus pergi ke sekolah terdekat," kata Kinuko Uemura, warga berusia 85 tahun yang selamat bersama suaminya dari rintangan rumah mereka yang roboh, kepada AFP.
Pemilik usaha lokal di tepi jalan turut merasakan guncangan dahsyat saat peristiwa berlangsung.
"Ini pertama kalinya saya mengalami gempa bumi yang benar-benar membuat tanah terangkat," kata Soshiro Okawa, seorang pemilik toko suvenir berusia 59 tahun.
Ia menceritakan kehancuran fisik yang menimpa tempat usahanya akibat pergerakan tanah.
"Saya mendengar barang-barang pecah di dalam toko saya saat tanah bergoyang di tempat parkir, meretakkan permukaan aspalnya dan serangkaian retakan merambat hingga ke fondasi toko saya," kata Soshiro Okawa.
Meski terpaksa menghentikan operasional toko, ia menekankan komitmennya kepada para pekerja dan pemasok.
"Kami harus memastikan penghidupan para petani kami dan kepastian kerja bagi staf saya," kata Soshiro Okawa.
Pusat perbelanjaan Aeon sempat dievakuasi usai gempa sebelum akhirnya hancur akibat ledakan besar sekitar 50 menit kemudian. Seorang pengusaha lokal mengaku bersyukur terhindar dari musibah tersebut.
"Saya ada di sini. Saya baru saja berada di sini," kata Fumihiko Matsuura, pengusaha berusia 56 tahun, kepada AFP.
Ia menggambarkan perasaannya setelah berhasil selamat dari lokasi bencana.
"Rasanya seperti saya baru saja lolos dari bahaya," kata Fumihiko Matsuura kepada AFP.
Di tengah kepungan puing-puing bangunan, tim penyelamat berhasil menyelamatkan 25 ekor kucing dari sebuah kafe kucing di lokasi. Sementara itu, otoritas setempat terus mendistribusikan ratusan unit pendingin udara ke posko pengungsian.