Laba Bersih KAI Anjlok 74,12 Persen pada Semester I-2026
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatatkan penurunan kinerja keuangan sepanjang semester I-2026. Berdasarkan laporan Keterbukaan Informasi, laba bersih perseroan anjlok signifikan hingga 74,12 persen. Dikutip dari Detik Finance, penurunan laba bersih ini terjadi di tengah kenaikan total pendapatan perusahaan hingga akhir Juni 2026.
Total pendapatan KAI merangkak naik 6,6 persen menjadi Rp 17,95 triliun pada semester I-2026. Sebagai perbandingan, BUMN moda transportasi rel ini membukukan pendapatan sebesar Rp 16,84 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan pendapatan turut dibarengi oleh kenaikan tipis pada beban pokok pendapatan.
Angka beban pokok pendapatan KAI tercatat sebesar Rp 11,16 triliun hingga semester I-2026, naik dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp 11,12 triliun.
Pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong laba bruto KAI terangkat menjadi Rp 6,79 triliun. Capaian ini menunjukkan peningkatan dari perolehan laba bruto semester pertama tahun lalu sebesar Rp 5,71 triliun.
Di sisi lain, beban usaha perseroan mengalami pembengkakan menjadi Rp 2,12 triliun dari nilai sebelumnya Rp 2 triliun. Meski beban usaha membengkak, laba usaha KAI tetap tumbuh menjadi Rp 4,66 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,70 triliun.
Faktor Penekan Laba Bersih KAI
Kinerja laba usaha perseroan kemudian tertekan oleh beban non-operasional. KAI menanggung lonjakan bagian rugi bersih dari entitas asosiasi dan ventura bersama yang mencapai Rp 2,99 triliun, disusul oleh beban keuangan perseroan sebesar Rp 1,38 triliun.
Tekanan dari beban keuangan dan rugi entitas asosiasi tersebut memangkas secara tajam akumulasi keuntungan perseroan. Alhasil, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk KAI menyusut menjadi Rp 305,37 miliar pada semester I-2026, turun drastis dari capaian semester I-2025 yang mencapai Rp 1,17 triliun.
Adapun posisi keuangan BUMN ini hingga Juni 2026 mencatatkan total aset sebesar Rp 104,79 triliun. Sementara itu, nilai liabilitas perseroan terekam di angka Rp 65,10 triliun dan posisi ekuitas tercatat sebesar Rp 39,68 triliun hingga akhir semester I-2026.