Samsung Prediksi Kelangkaan Chip Memori Terus Berlanjut Hingga 2028
Samsung Electronics memperingatkan bahwa kelangkaan chip memori global akan semakin parah pada 2027 dan berlanjut hingga 2028 akibat ledakan pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI), menurut laporan Reuters pada 31 Juli 2026.
Perusahaan asal Korea Selatan ini telah mengamankan kontrak pasokan jangka panjang minimal lima tahun dengan lima operator pusat data terbesar dunia, mencakup sekitar 60-70% kapasitas produksi memori mereka. Kesepakatan ini juga termasuk pembayaran di muka dan mekanisme perlindungan harga.
Kontrak tersebut memberikan kepastian bisnis bagi Samsung, tetapi berpotensi membatasi pasokan chip memori untuk industri lain seperti smartphone, komputer, kendaraan, dan perangkat elektronik lainnya yang juga bergantung pada komponen ini.
Bisnis semikonduktor Samsung meraih keuntungan besar dari kelangkaan chip. Pada kuartal kedua 2026, divisi ini mencatat laba operasional sebesar 89,2 triliun won, melonjak lebih dari 250 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Permintaan chip high-bandwidth memory (HBM) untuk AI menjadi pendorong utama, dengan pendapatan HBM4 diperkirakan meningkat tiga kali lipat pada kuartal berikutnya.
Secara keseluruhan, Samsung membukukan laba operasional 89,5 triliun won dan pendapatan 171,5 triliun won pada kuartal tersebut, mencatat rekor kuartalan tertinggi menurut laporan Associated Press.
Namun, lonjakan harga komponen chip berdampak negatif pada bisnis perangkat Samsung. Divisi ponsel dan jaringan melaporkan kerugian sekitar 700 miliar won akibat biaya chip yang semakin mahal.
Situasi ini menunjukkan paradoks yang dialami Samsung; perusahaan mendapatkan keuntungan besar sebagai produsen chip, tetapi menghadapi biaya komponen yang meningkat saat memproduksi ponsel dan perangkat elektronik lainnya.
Kelangkaan chip yang berkepanjangan berpotensi menekan harga smartphone, PC, RAM, SSD, dan server. Namun, dampaknya terhadap harga perangkat di Indonesia masih sulit dipastikan karena dipengaruhi oleh faktor seperti nilai tukar, stok barang, kapasitas produksi, dan strategi masing-masing produsen.