Pemkab Lebak Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan
Pemerintah Kabupaten Lebak menetapkan status siaga darurat kekeringan akibat semakin meluasnya krisis pasokan air bersih yang melanda puluhan desa. Keputusan ini diambil guna mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September, dilansir dari Detikcom.
Krisis pasokan air bersih dilaporkan telah berdampak pada 18 desa yang tersebar di tujuh kecamatan di wilayah Kabupaten Lebak. Kondisi tersebut memengaruhi sekitar 4.000 kepala keluarga yang kini membutuhkan penanganan pasokan air secara berkala.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak mengonfirmasi perpanjangan masa tanggap darurat untuk mengatasi dampak kemarau tersebut.
"Pemerintah kabupaten Lebak sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan selama dua minggu. Kita akan perpanjang selama dua minggu ke depan karena situasinya semakin meningkat," kata Sekretaris BPBD Lebak, Feby Rizki Pratama.
Upaya pendistribusian air bersih ke wilayah terdampak terus dilakukan oleh pihak berwenang guna memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
"Kita sudah melakukan distribusi (air bersih) ke beberapa kecamatan, ada tujuh kecamatan yang kita intervensi, ada 18 desa dengan jumlah cakupan 4.000 KK yang terlayani," ucapnya.
Dalam proses penyaluran bantuan, keterbatasan armada tangki dan jarak antarwilayah yang jauh menjadi kendala utama dalam penanganan kekeringan ini.
"Memang ada delay terutama persoalan armada dan juga jarak, jadi kita hanya punya dua tangki yang bisa melayani, sedangkan jaraknya di kabupaten Lebak cukup berjauhan. Tapi yang jelas, setiap usulan akan kita layani walaupun memang tidak langsung," katanya.
Hingga saat ini, BPBD Lebak mencatat total bantuan pasokan air bersih yang telah disalurkan kepada warga terdampak mencapai ribuan liter.
"Sampai sekarang kita sudah mendistribusikan 1.350 liter air bersih," imbuhnya.
Selain ancaman krisis air, warga diimbau untuk mewaspadai bahaya kebakaran lahan serta risiko penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan kualitas sanitasi yang memburuk selama musim kering.
"Sepanjang bulan Juli ada sekitar 35 kejadian kebakaran, di musim kering dari segi kesehatan cukup extrim debunya, misalkan (penyakit) ISPA kita menghindari itu, kemudian mereka yang menggunakan sungai untuk mandi, cuci kakus karena sungai tidak bersih. Itu yang diwaspadai ketika musim kering," pungkasnya.