Bursa Asia dan Yen Melonjak Pasca Intervensi Pasar
Pasar saham Asia mencatatkan reli tajam pada Jumat (31/7/2026) seiring pemulihan bursa Korea Selatan dan penguatan nilai tukar yen pasca dugaan intervensi terkoordinasi oleh otoritas moneter lintas negara menjelang keputusan suku bunga Bank of Japan.
Indeks Kospi Korea Selatan melompat lebih dari 10 persen, sementara indeks Nikkei Jepang naik 4,5 persen dan indeks MSCI Asia-Pasifik non-Jepang menguat 4,6 persen. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan saham raksasa teknologi Wall Street seperti Microsoft dan Amazon yang meredakan kekhawatiran pasar terkait pengeluaran modal aset kecerdasan buatan (AI).
Analys pasar di IG, Fabien Yip, memberikan pandangannya mengenai dinamika kinerja keuangan dan sentimen investor yang mulai pulih tersebut.
"Kinerja keuangan maupun sentimen tampak mulai pulih setelah pergerakan yang sangat berlebihan pada awal pekan ini," kata Fabien Yip, analis pasar di IG.
Ia menambahkan bahwa tren permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan masih menunjukkan keberlanjutan dalam jangka panjang.
"Permintaan AI tidak benar-benar melambat, tampaknya masih berkelanjutan. Jadi aksi jual yang kita lihat kemungkinan merupakan reaksi berlebihan dari pasar terhadap sebagian kekhawatiran terkait pengeluaran modal," kata Fabien Yip, analis pasar di IG.
Kendati mengalami lonjakan pada perdagangan Jumat, indeks Kospi tetap berada dalam jalur penurunan bulanan sebesar lebih dari 25 persen sepanjang Juli, yang menjadi penurunan terburuk sejak 1997. Kondisi ini mendorong otoritas Korea Selatan memperketat aturan produk berleveraj guna melindungi investor ritel.
Senior EM Equity Portfolio Manager di Amundi, Ji Young Park, menilai bahwa volatilitas tajam pada sektor saham teknologi berbasis kecerdasan buatan telah mendekati fase akhir.
"Sentimen pasar cukup rapuh di sekitar perdebatan AI," kata Ji Young Park, senior EM equity portfolio manager di Amundi.
Ia menekankan rentannya konsentrasi pergerakan bursa di wilayah Asia di luar Jepang yang sangat terikat dengan sektor teknologi.
"Kinerja pasar sangat sempit di Asia eks-Jepang, sebagian besar berkaitan dengan AI. Mengingat koreksi tajam yang terjadi di pasar yang memiliki paparan AI, kami percaya kita sudah dekat dengan akhir dari volatilitas berkepanjangan ini," kata Ji Young Park, senior EM equity portfolio manager di Amundi.
Di pasar valuta asing, yen berada di level 160,55 per dolar AS setelah sempat melonjak 2,4 persen pada hari Kamis akibat intervensi pemerintah Jepang. Otoritas Korea Selatan juga melakukan aksi jual dolar, sementara otoritas AS dilaporkan melakukan pemantauan nilai tukar.
Head of APAC Macro Strategy di Mizuho, Vishnu Varathan, mengomentari langkah tajam pemulihan nilai tukar yen dari level terendahnya dalam empat dekade.
"Brutalitas pergerakan tersebut — USD/JPY jatuh dari mendekati 164 menjadi di bawah 160 dalam kejutan tajam — sama mencoloknya dengan momentumnya yang tepat sebelum rapat BOJ hari ini," kata Vishnu Varathan, head of APAC macro strategy di Mizuho.
Ia menyimpulkan bahwa langkah otoritas keuangan tersebut berisifat antisipatif untuk mencegah aksi jual yen lebih lanjut.
"Waktunya bukan kebetulan. Jelas otoritas sedang memberi peringatan pencegahan atau melindungi dari aksi jual JPY atas ekspektasi penahanan suku bunga BOJ," kata Vishnu Varathan, head of APAC macro strategy di Mizuho.
Sementara itu dari pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun 1,2 persen menjadi 88,00 dolar AS per barel di tengah serangan nirawak terhadap kapal gas di pelabuhan Damietta, Mesir.
Senior FX Strategist di National Australia Bank, Rodrigo Catril, menyoroti respons pasar energi terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Ciri menarik dari reaksi pasar adalah harga energi tidak mengalami kepanikan meskipun terjadi pemburukan dalam konflik tersebut," kata Rodrigo Catril, senior FX strategist di National Australia Bank.