Saham Korea Selatan dan Taiwan Anjlok Terpukul Dampak Penurunan Nvidia
Pasar saham Korea Selatan dan Taiwan mengalami penurunan tajam pada akhir Juli 2026 setelah saham Nvidia di Wall Street turun hampir 5%, memicu aksi jual besar-besaran di sektor semikonduktor Asia, terutama pada perusahaan chip utama di kedua negara.
Indeks Kospi Korea Selatan anjlok hingga 10,84% pada 28 Juli 2026, dengan Samsung Electronics turun sekitar 14% dan SK hynix turun 14,7%. Pada hari berikutnya, Kospi sempat kehilangan 12,6% hingga terjadi penghentian perdagangan sementara sebelum akhirnya ditutup turun 5,98% ke level 5.663,24, sementara indeks Taiex Taiwan melemah 3,76% ke 40.039,18 dengan TSMC turun sekitar 3,5%.
Penurunan besar-besaran ini dipicu oleh laporan bahwa Nvidia sedang membahas pembiayaan sekitar US$250 miliar untuk proyek pusat data AI yang digunakan OpenAI di Ohio, serta dukungan pembelian chip dalam jumlah besar. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pasar terkait model pembiayaan dalam industri AI yang bisa meningkatkan risiko keuangan.
Samsung Electronics dan SK hynix mendominasi pasar saham Korea Selatan dengan kapitalisasi gabungan sekitar 51,1% Kospi, sehingga penurunan kedua saham ini memberikan tekanan besar pada indeks pasar secara keseluruhan, seperti dijelaskan oleh perhitungan CNBC Indonesia berdasarkan data kapitalisasi pasar per 29 Juli 2026.
Penurunan saham Nvidia dianggap sebagai sinyal untuk mengurangi eksposur pada rantai pasok semikonduktor global. Korea Selatan juga menjadi proxy perdagangan AI karena SK hynix memasok chip memori berkecepatan tinggi untuk akselerator AI, sementara Samsung meningkatkan investasi pada chip memori AI.
Di Taiwan, TSMC yang mewakili lebih dari 40% kapitalisasi pasar saham juga mengalami tekanan karena posisi saham AI yang melemah, meskipun dampaknya lebih kecil dibandingkan Korea Selatan.
Investor juga mempertimbangkan risiko persaingan dari industri semikonduktor China yang mulai mengembangkan peralatan litografi dan memperluas kapasitas produksi, yang menambah tekanan pasar di Asia Timur.
Selain itu, volatilitas pasar diperparah oleh penggunaan dana pinjaman dan produk ETF berleverage di Korea Selatan, yang memperbesar kerugian saat harga saham turun dan memicu penjualan paksa berantai. Pemerintah Korea Selatan sedang mengevaluasi pengawasan terhadap ETF berleverage ini untuk mengurangi risiko di pasar modal.
Seiring dengan turbulensi pasar, mekanisme sidecar di bursa Korea yang berfungsi sebagai pengaman volatilitas juga terus diuji efektivitasnya. Mekanisme ini sudah diaktifkan sebanyak 43 kali sepanjang tahun 2026, lebih tinggi dibandingkan krisis keuangan global 2008, namun masih belum mampu menahan penurunan pasar yang berlanjut hingga pemicu penghentian perdagangan sementara.
Seorang pejabat pasar modal Korea menyatakan, "Karena volatilitas pasar yang terus tinggi, seringnya aktivasi sidecar telah mengurangi efektivitas mekanisme ini sebagai pengaman terhadap fluktuasi harga yang berlebihan." Sementara itu, profesor ekonomi Shin Se-don menilai bahwa koreksi pasar ini merupakan hal yang wajar setelah periode pasar yang memanas secara berlebihan.