Krisida Migran Ceuta Memuncak 18 Orang Tewas Tenggelam
Ribuan migran menerobos perbatasan Maroko menuju wilayah enklave Spanyol di Ceuta pada Kamis, 30 Juli 2026, yang mengakibatkan sedikitnya 18 orang tewas tenggelam dan memicu pengerahan pasukan militer Spanyol.
Gelombang kedatangan massal tersebut terjadi setelah ribuan orang berenang mengitari pemecah gelombang di perbatasan El Tarajal maupun berjalan kaki. Lebih dari 2.000 orang tercatat masuk dalam beberapa hari terakhir dengan laju mencapai hampir 200 orang per hari.
Penumpukan warga migran di wilayah pesisir menyebabkan Pusat Penampungan Sementara Migran (CETI) serta fasilitas penampungan anak di bawah umur mengalami overkapasitas total. Kondisi di sekitar fasilitas penampungan memburuk akibat tumpukan sampah dan minimnya sanitasi.
Pemerintah Spanyol telah memobilisasi unit Angkatan Darat yang ditempatkan di Ceuta untuk membantu pertugas Guardia Civil di lapangan. Sementara itu, tim penyelamat terus memindahkan belasan jenazah korban tenggelam ke fasilitas pelabuhan perikanan untuk proses autopsi.
Presiden Kota Otonom Ceuta, Juan Jesús Vivas, mendesak pemerintah pusat Spanyol untuk mengambil langkah darurat atas situasi yang terjadi di wilayahnya.
"Bersama dan bersatu kita akan maju," kata Juan Jesús Vivas, Presiden Kota Otonom Ceuta.
Juan Jesús Vivas meminta Pemerintah Spanyol segera menyatakan status darurat nasional dan mengambil alih komando tunggal penanganan krisis. Ia juga mengimbau warga Ceuta agar tetap tenang menghadapi lonjakan kedatangan migran tersebut.
Eskalasi krisis ini memicu reaksi internasional, di mana pemerintah Italia mempertimbangkan penangguhan kawasan Schengen bagi Spanyol. Pemerintah Amerika Serikat turut mengkritik kebijakan migrasi Spanyol, sementara perbatasan di Melilla ikut ditutup menyusul peningkatan upaya penerobosan.