Seno Gumira Ajidarma Merilis Buku Antologi Senja dan Cinta yang Berdarah Edisi 2
Sastrawan Seno Gumira Ajidarma menerbitkan buku antologi berjudul Senja dan Cinta yang Berdarah Edisi 2 di Gramedia Jalma, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat malam (22/5/2026). Buku tersebut merangkum 98 cerita pendek yang ditulisnya sepanjang tahun 1978 hingga 2025.
Karya-karya yang dikumpulkan dalam buku ini sebelumnya pernah dimuat di Harian Kompas, seperti dilansir dari Detikcom. Selama 47 tahun menulis, novelis berusia 67 tahun tersebut mengeksplorasi tema cinta, kesepian, serta realitas sosial melalui penulisan ulang cerpen yang disesuaikan dengan konteks sosial dan historis.
Edisi pertama dari antologi ini sebenarnya telah terbit pada tahun 2013 lalu. Seno Gumira Ajidarma yang akrab disapa SGA meluncurkan edisi kedua ini dengan konten yang lebih lengkap setelah berselang 13 tahun dari cetakan pertamanya.
"Cukup lumayan lama ya 13 tahun, apa yang tercapai selama waktu 13 tahun itu ada cerpen tambahan. Perkembangannya, perubahannya, jadi kayak suatu arkeologi ya, sudah bisa selama itu. Ya, hampir 50 tahun nulis cerpen," ungkap Seno Gumira Ajidarma.
Sembari berkelakar, penulis yang telah berkarier hampir lima dekade ini menegaskan bahwa profesi tersebut bukanlah sebuah karier biasa bagi dirinya. Bagi pria yang pernah menjabat sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta periode 2016-2020 ini, menulis sudah menjadi bagian dari cara hidup.
"Kalau karier itu, ya kasihan bener. Saya hidup saja, di antara kehidupan ya saya menulis," terang Seno Gumira Ajidarma.
Seno juga menceritakan pengalaman pribadinya baru-baru ini ketika karya cerita pendeknya ditolak oleh ruang redaksi. Pengalaman tersebut ia jadikan sebagai sarana evaluasi diri terhadap kualitas tulisan fiksi yang ia kirimkan ke kolom sastra media massa.
"Kemarin saja ditolak, jangan berpikir terus (karena SGA) wah pasti masuk gitu. Makanya saya juga perlu mengecek, apa iya sejelek itu cerpen saya di kolom sastra. Tapi saya senang, gak apa-apa gak masuk. Saya selalu bermimpi dulu kalau jadi penulis itu pasti masuk, apalagi jadi redaktur. Karena moralnya, kalau jadi redaktur kasih tempat sama orang," kata Seno Gumira Ajidarma tertawa.
Dalam kumpulan fiksi tersebut, kritik sosial sengaja dibalut agar masyarakat dapat mengetahui isu di luar Jakarta tanpa merasa dihakimi. Seno mengingat momen masa lalu saat ia merasa marah terhadap situasi konflik yang melanda wilayah Timor Timur.
"Jadi kalau ditanya, apa sih ide buat cerpen saya. Saya tuh merasa marah, gimana caranya orang ngerti tanpa bisa mencecar saya. Itu pengalaman saya dapatkan dari Timor Timur. Tapi lama-lama sih Kompas jangan deh, lama-lama semua koran ngomong 'sory, dek'. Bahkan yang saya tulis bukan soal itu (kritiknya)," ujar Seno Gumira Ajidarma.
Kemarahan tersebut bermula saat Seno menjadi redaktur media massa dan membawahi dua wartawan perempuan yang meliput ke Timor Timur. Tulisan hasil liputan konflik tersebut menyentuh hatinya hingga ia memutuskan untuk memuatnya agar publik mengetahui situasi riil di sana.
Buku antologi terbarunya ini dinilai sangat perlu dibaca oleh masyarakat Indonesia karena berfungsi sebagai cermin kehidupan. Penulis yang melahirkan kutipan populer 'Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus berbicara' ini memandang sastra sebagai medium alternatif masyarakat.
"Kenapa masih perlu ada sastra, sastra itu dunia alternatif. Kita kalau hidup tanpa alternatif, kasihan bener. Kurang suksesnya kayak gitu, apalagi sekarang kesuksesan itu seperti berhala," pungkas Seno Gumira Ajidarma.
Seno Gumira Ajidarma tercatat telah bekerja sebagai wartawan sejak tahun 1977 dan menghasilkan lebih dari 30 buku sepanjang kariernya. Beberapa karya terkenalnya meliputi Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Sepotong Senja untuk pacarku, Saksi Mata, Negeri Senja, hingga Wisanggeni – Sang Buronan.