BMKG Prediksi Puncak Kemarau dan Mulai Musim Hujan 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di Indonesia bakal dimulai secara bertahap pada pertengahan Oktober hingga November 2026. Transisi cuaca ini terjadi tepat setelah wilayah Nusantara melewati puncak musim kemarau ekstrem yang berlangsung pada Agustus dan September 2026.
Berdasarkan pemetaan curah hujan bulanan, sebanyak 48,84 persen wilayah Indonesia dijangkau puncak kemarau pada Agustus 2026, sedangkan 25,41 persen area lainnya menyusul pada September. Kondisi kemarau ini bertepatan pula dengan penetapan status Waspada, Siaga, hingga Awas kekeringan meteorologis di kawasan operasional BBWSBS untuk periode Dasarian III Juli 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan keterlibatan fenomena El Nino yang aktif hingga awal 2027 memicu kemarau berdurasi lebih panjang dan cenderung lebih kering dari kondisi normal di mayoritas daerah.
"Sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau di bawah normal atau lebih kering dengan durasi lebih panjang," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.
BMKG mencatat kemunculan awal hujan akan terdeteksi pertama kali di area bagian barat seperti pesisir Riau, Aceh, serta Sumatera Utara, sebelum akhirnya menyebar ke Pulau Jawa dan wilayah Indonesia lainnya.
"Untuk bulan Oktober, di situ kita melihat warna kekuningan mulai muncul lebih banyak dibandingkan bulan September. Ini menandakan awal mulai masuknya musim hujan dari arah barat wilayah Indonesia," kata Ardhasena.
Fenomena El Nino diprediksi berpotensi mencapai level sangat kuat sehingga risiko kebakaran hutan, lahan, serta krisis air di berbagai sektor strategis kian meningkat. Kendati demikian, BMKG mengingatkan masyarakat agar membedakan antara siklus musim kemarau dan fenomena iklim El Nino.
"Bulan Oktober dan November kita mulai muncul warna kuning yang menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia mulai normal walaupun juga kita lihat di bulan November itu hujan di pulau Jawa misalkan masih di bawah normal tetapi hujannya sudah mulai datang dan masuk ke wilayah pulau Jawa," kata Ardhasena.
Memasuki November 2026, curah hujan dengan intensitas rendah hingga tinggi diproyeksikan mulai mendominasi peta iklim Indonesia. Momen tersebut sekaligus menandai berakhirnya dampak langsung kemarau ekstrem bagi masyarakat.
"Kemarau tidak sama dengan El Nino. Jadi El Nino-nya masih berlangsung hingga awal tahun 2027, tapi dampaknya di kita itu selesai mulai pertengahan bulan Oktober dan berlanjut bulan November," kata Ardhasena.