Menteri Agama Minta BGN Tingkatkan Penyaluran Makanan Bergizi Santri

Share

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti rendahnya capaian penyaluran program Makan Bergizi Gratis di lingkungan pondok pesantren yang baru menyasar sebagian kecil santri pada Kamis (30/7/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Data Pusat Data dan Informasi Badan Gizi Nasional per 28 Juli 2026 mencatat penerima manfaat program di kalangan pesantren baru mencapai 61.195 santri. Jumlah tersebut dinilai sangat minim jika dibandingkan dengan total populasi santri nasional yang mencapai 4.268.848 orang.

Menteri Agama menilai kelompok santri seharusnya menjadi prioritas utama penerima intervensi gizi dari pemerintah karena angka keterjangkauannya saat ini masih sangat terbatas.

"Angka ini baru sekitar 1,43 persen dari total keseluruhan santri kita. Kelompok santri ini boleh dikatakan sebagai pihak yang paling memerlukan sentuhan program gizi, namun ternyata baru sekitar satu persen yang bisa tersentuh. Ini yang perlu kita dorong bersama," kata Menag Nasaruddin Umar, Menteri Agama.

Nasaruddin menekankan pentingnya peningkatan pemenuhan gizi santri meskipun mayoritas pesantren telah mengelola dapur umum secara mandiri. Ia mengusulkan agar Badan Gizi Nasional melibatkan ekosistem internal pesantren sebagai penyedia bahan baku untuk menghemat biaya logistik sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

"Terkait dengan supplier bahan makanan untuk program MBG ini, kami mengusulkan agar BGN mungkin bisa memanfaatkan dan memberdayakan sumber-sumber bahan baku yang selama ini sudah ada dan dikelola secara mandiri oleh pesantren itu sendiri. Ini tak hanya akan menekan biaya logistik tetapi juga semakin menghidupkan kemandirian ekonomi pesantren," kata Nasaruddin Umar, Menteri Agama.

Selain rantai pasok, penyesuaian jadwal pengiriman makanan juga dinilai perlu karena adanya tradisi puasa sunnah Senin dan Kamis di kalangan santri. Pengiriman makanan yang umumnya dilakukan siang hari oleh Satuan Pelayanan Program Gizi perlu digeser mendekati waktu berbuka puasa agar kondisi makanan tetap segar.

"Di pondok pesantren itu ada kebiasaan puasa Senin dan Kamis. Hal ini tentu kurang sinkron dengan jadwal distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) yang umumnya diantar pada siang hari. Oleh karena itu, perlu ada penyesuaian jadwal distribusi, misalnya dikirim menjelang waktu berbuka puasa agar makanan yang diterima santri tetap fresh," jelas Nasaruddin Umar, Menteri Agama.

Untuk memastikan efektivitas program, Kementerian Agama berkomitmen memperbarui dan memvalidasi data penerima di sektor pesantren, madrasah, hingga lembaga lintas agama agar koordinasi bersama BGN berjalan optimal.

"Kemenag akan segera bergerak dan ini akan diselesaikan dalam waktu yang secepatnya, insyaallah. Dengan data yang valid, Kementerian Agama melalui kelompok santrinya, madrasahnya, dan kelompok-kelompok lintas agama lainnya, insyaallah akan lebih praktis untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan lembaga pengelola program ini ke depan," kata Nasaruddin Umar, Menteri Agama.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author