AS Temukan Cadangan Litium Raksasa di Pegunungan Appalachian
Kawasan Pegunungan Appalachian di Amerika Serikat berpotensi menjadi pusat perburuan komoditas tambang baru. Lembaga U.S. Geological Survey (USGS) mengungkap bahwa wilayah tersebut menyimpan potensi harta karun berupa cadangan litium yang belum ditemukan sebelumnya sebesar 2,3 juta metrik ton.
Nilai dari potensi mineral tersebut diperkirakan mencapai sekitar USD 65 miliar atau setara Rp 1.150 triliun, seperti dilansir dari Detik iNET. Kandungan litium di sepanjang gugusan pegunungan Pantai Timur ini terutama terdeteksi di wilayah Carolina, Maine, dan New Hampshire.
Jika proyeksi volume 2,3 juta metrik ton tersebut akurat, pasokan mineral ini dinilai mampu memenuhi kebutuhan impor domestik Amerika Serikat selama 328 tahun, dengan mengacu pada tingkat impor sepanjang tahun 2025.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah Appalachian menyimpan cukup litium untuk membantu memenuhi kebutuhan negara yang terus meningkat, sebuah kontribusi besar bagi ketahanan mineral AS, di saat permintaan litium global sedang melonjak tajam," ujar Direktur USGS, Ned Mamula.
Berdasarkan laporan Mineral Commodity Summaries 2026 yang dirilis oleh USGS, Australia saat ini masih memimpin sebagai produsen litium utama di dunia dengan kontribusi hampir sepertiga dari total pasokan global.
Posisi berikutnya diikuti oleh China yang terus mencatatkan peningkatan kapasitas pemurnian serta konsumsi litium. Hal ini sejalan dengan masifnya adopsi teknologi berbasis baterai di negara tersebut, termasuk untuk kendaraan listrik.
Estimasi dari USGS menunjukkan bahwa volume litium yang melimpah di Pegunungan Appalachian tersebut dapat menyuplai daya untuk 1,6 juta baterai skala jaringan, 130 juta armada kendaraan listrik, 180 miliar unit laptop, serta 500 miliar perangkat ponsel.
Peningkatan kapasitas pasokan ini dinilai sangat krusial. Pasalnya, proyeksi USGS menunjukkan bahwa kapasitas produksi litium global harus berlipat ganda pada tahun 2029 demi memenuhi lonjakan permintaan pasar terhadap produk-produk teknologi tersebut.
Dalam memetakan kandungan total litium di kawasan tersebut, para ilmuwan USGS menerapkan kombinasi berbagai instrumen dan metode ilmiah. Langkah ini mencakup penggunaan peta geologi, analisis sejarah tektonik, pengambilan sampel geokimia, survei geofisika, hingga pemeriksaan catatan mineral historis.
Melalui pemodelan simulasi, tim peneliti memperoleh estimasi angka 2,3 juta metrik ton. Data ini disajikan dengan interval kepercayaan 50% yang mengindikasikan bahwa volume riil di lapangan bisa menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari perkiraan semula.
Kendati hasil akhir nantinya berada di bawah estimasi awal, temuan ini dinilai tetap memberikan dampak signifikan bagi industri pertambangan domestik serta sektor teknologi yang bergantung pada suplai baterai litium-ion.
"Amerika Serikat adalah produsen litium dominan di dunia tiga dekade lalu dan penelitian ini menyoroti potensi yang melimpah untuk merebut kembali kemandirian mineral kita," kata Mamula yang dikutip dari Yahoo Finance.