Luas Mangrove Jawa Timur Bertambah Menjadi 31 Ribu Hektare
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan luas kawasan mangrove di wilayahnya meningkat menjadi 31.067 hektare pada 2025 dalam Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 di Pantai Panduri, Kabupaten Tuban, Rabu (29/7/2026), dilansir dari Detikcom.
Peningkatan tersebut tercatat berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 3438 Tahun 2025. Luas mangrove Jawa Timur mengalami penambahan sebesar 3.846 hektare dibandingkan tahun 2021 yang seluas 27.221 hektare.
Capaian ini menempatkan Jawa Timur sebagai pemilik kawasan mangrove terluas di Pulau Jawa dengan menyumbang 47,85 persen dari total luas ekosistem tersebut. Indonesia sendiri mencatatkan kepemilikan sekitar 3,45 juta hektare mangrove atau setara 23 persen dari total dunia.
"Indonesia memiliki mangrove terbesar di dunia, yakni sekitar 3,45 juta hektare atau 23 persen dari total mangrove dunia. Karena itu, Jawa Timur siap menjadi leading province dalam pelestarian mangrove yang mendorong Indonesia menjadi leading country. Inisiatif-inisiatif pelestarian harus lahir dari kita sehingga Indonesia dapat menjadi kiblat sekaligus role model bagi dunia dalam menjaga ekosistem mangrove," ujar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).
Khofifah menegaskan pentingnya konsistensi wilayahnya dalam mendukung upaya konservasi berskala internasional melalui gerakan pelestarian berkelanjutan di wilayah pesisir.
"Dengan capaian tersebut, Jawa Timur menjadi provinsi dengan luasan mangrove terbesar di Pulau Jawa dengan kontribusi mencapai 47,85 persen dari total mangrove Pulau Jawa. Maka kalau tadi saya katakan Indonesia harus jadi lead country, maka Jawa Timur sebisa mungkin jadi lead province," ungkapnya.
Ia menyampaikan bahwa penambahan area konservasi mangrove di Jawa Timur merupakan buah sinergi lintas pihak, mulai dari pemerintah, sektor usaha, akademisi, hingga warga pesisir melalui rehabilitasi rutin dan Festival Mangrove tahunan.
"Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong rehabilitasi yang berbasis karakteristik ekologi. Selain rehabilitasi mangrove, pada lokasi tertentu juga dilakukan penanaman vegetasi asosiasi seperti cemara laut dan pandan laut," katanya.
Langkah rehabilitasi tersebut diarahkan agar senantiasa selaras dengan ekosistem lokal guna memberikan dampak proteksi ekologi yang efisien.
"Pendekatan ini merupakan bagian dari upaya rehabilitasi yang lebih menyeluruh, sehingga setiap kawasan memperoleh perlakuan yang sesuai dengan kondisi alamnya dan mampu memberikan manfaat ekologis yang optimal," lanjut Khofifah.
Dalam rangkaian acara, Khofifah meresmikan Pantai Panduri sebagai lokasi wisata edukasi mangrove bersama jajaran kementerian dan pemerintah daerah setempat. Penanaman 700 bibit cemara udang dan pandan laut serta pelepasan 100 burung perkutut turut dilakukan sebagai simbol penutup.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasi kepada 21 entitas dan tokoh lingkungan, termasuk Bupati Tuban, Wakil Bupati Gresik, Wakil Bupati Lamongan, Kepala Perwakilan BI Jatim, PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama, PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban, PT Petrowell Energi, PT Saka Indonesia Pangkah Limited, dan pegiat lingkungan Ali Mansyur.
Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky menyambut positif penunjukan daerahnya sebagai lokasi festival karena turut mengedukasi warga pesisir yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.
"Hampir 30-40 persen mata pencaharian masyarakat kami adalah nelayan. Festival Mangrove yang ke-10 ini menjadi pilot project yang sangat strategis untuk memahamkan masyarakat bahwa tidak ada kekurangan sedikit pun ketika kita secara masif melakukan penanaman mangrove di bibir pantai maupun di dasar laut," Kata Aditya.
Ia menyoroti beragam keunggulan ekologis dan ekonomis yang didapat masyarakat dari keberadaan vegetasi pantai tersebut.
"Mangrove bukan hanya mencegah abrasi dan intrusi air laut, tetapi juga mampu menyerap karbon dioksida, menghadirkan ekosistem baru bagi ikan dan kepiting, bahkan bisa dimanfaatkan menjadi tepung, kopi tanpa kafein," imbuhnya.
Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan Dyah Murtiningsih mengutarakan apresiasinya atas komitmen berkelanjutan dari pemerintah daerah setempat.
"Festival Mangrove ini membuktikan Jawa Timur sangat konsisten melindungi serta mempertahankan mangrove karena keberadaan dan fungsinya sangat diperlukan oleh masyarakat pesisir. Sampai tahun ini, Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah dan seluruh pihak telah melakukan rehabilitasi mangrove seluas 1.643 hektare di Provinsi Jawa Timur," pungkas Dyah.