Mata Uang Dolar AS Merosot Usai The Fed Tahan Suku Bunga Utama

Share

Nilai tukar dolar AS mengalami penurunan terajam dalam dua minggu setelah Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada Rabu (30/7/2026). Langkah ini membuat para pelaku pasar mengurangi spekulasi terkait kenaikan biaya pinjaman pada pertemuan September mendatang.

Bloomberg Dollar Spot Index melonjak turun sekitar 0,3% sesudah pengumuman keputusan tersebut. Penurunan ini mencatatkan rekor penurunan indikator harian terbesar dalam dua tahun terakhir setelah penahanan suku bunga acuan oleh bank sentral AS.

Tekanan terhadap mata uang greenback makin meluas setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan keterangan resmi. Warsh menyebutkan bahwa para pejabat sedang mencermati peningkatan imbal hasil (yield) obligasi negara (Treasury) tenor 30 tahun yang melonjak ke level tertinggi sejak 2007.

"Warsh secara tersirat menyebutkan kenaikan imbal hasil Treasury sejak pertemuan terakhir sebagai pengganti kenaikan suku bunga, yang kemungkinan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga di pasar dan menekan mata uang dolar," ujar Yusuke Miyairi, ahli strategi mata uang di Nomura, London.

Sebelum pengumuman tersebut, para pedagang memperhitungkan peluang satu banding tiga untuk kenaikan suku bunga di tengah lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Saat ini, ekspektasi pasar untuk kenaikan di bulan September berada di angka sedikit di atas 50%, sementara kenaikan di bulan Desember belum sepenuhnya diperhitungkan.

Meskipun tiga pejabat The Fed menyatakan perbedaan pendapat dan menginginkan kenaikan suku bunga, komite tetap menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas harga. Di sisi lain, penurunan dolar AS terjadi terhadap sebagian besar mata uang utama, seperti Krone Norwegia yang melonjak 0,8% akibat dorongan kenaikan harga minyak dunia.

"Sebelumnya kita melihat ada probabilitas sekitar 30% bahwa kita akan mendapatkan kenaikan 25 basis poin dan itu tidak terjadi — hal itu saja kemungkinan sudah cukup untuk memicu pergerakan setengah persen pada dolar," kata Nathan Thooft, manajer portofolio senior di Manulife Investment Management.

Kondisi pasar keuangan global terus menyesuaikan diri dengan dinamika kebijakan moneter AS dan pergerakan harga komoditas energi.

"Dalam jangka panjang, kami terus percaya bahwa dolar AS kemungkinan telah mencapai puncaknya pada siklus ini, namun jalur pergerakan ke depannya kemungkinan tidak akan terjadi secara drastis," kata Nathan Thooft, manajer portofolio senior di Manulife Investment Management.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author