BMKG Minta Masyarakat Waspadai Fenomena Bediding Hingga September
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan fenomena suhu dingin atau bediding masih terus berlangsung di kawasan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur, sebagaimana dilansir dari Detik Health pada Rabu (29/7/2026).
Musim kemarau menjadi pemicu utama penurunan suhu yang berdampak signifikan pada wilayah selatan Indonesia, terutama di area dataran tinggi. Dieng mencatatkan suhu hingga minus 6 derajat celsius disertai embun es, Bromo mencapai 5,1 derajat celsius, dan Batu berada di angka 12 derajat celsius.
"Fenomena suhu dingin atau bediding di Jawa saat ini merupakan hal yang normal pada musim kemarau. BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, mengenakan pakaian hangat saat malam/pagi, serta menjaga asupan cairan. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung hingga puncak kemarau pada Agustus-September 2026 dan tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di Bali, NTB, dan NTT," kata Guswanto, Sekretaris Utama BMKG.
Penyebab utama bediding adalah langit cerah tanpa tutupan awan yang membuat panas bumi terlepas cepat pada malam hari. Pergerakan Monsun Australia juga memperkuat pengiriman massa udara dingin dan kering dari wilayah selatan khatulistiwa.
"Cukup cairan tubuh. Meski udara dingin, siang hari tetap terik sehingga tubuh mudah dehidrasi. Waspada penyakit pernapasan. Bediding dapat memicu flu, ISPA, dan gangguan kesehatan lain," kata Guswanto.