Gempa Venezuela Tewaskan 5.500 Orang dan Memicu Krisis Lingkungan
Dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang kawasan utara Venezuela pada 24 Juni 2026 telah menewaskan sedikitnya 5.546 orang dan melukai lebih dari 16.700 warga. Bencana ini memicu krisis kesehatan serta potensi bahaya lingkungan yang makin memburuk di wilayah terdampak parah seperti La Guaira dan Caracas.
Selain merenggut ribuan nyawa, Bank Dunia memperkirakan kerugian fisik langsung akibat kerusakan infrastruktur mencapai 19,6 miliar dolar AS. Pemerintah Venezuela mencatat hampir 18.000 orang kehilangan tempat tinggal, sementara puluhan ribu korban lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang di bawah reruntuhan.
Penanganan pascabencana menghadapi kendala besar berupa tumpukan debris bangunan yang diperkirakan mencapai 1,2 juta ton. Material reruntuhan tersebut berisiko tercemar bahan berbahaya seperti oli mesin, zat pelarut, cat, hingga asbes yang berpotensi merusak ekosistem pesisir dan sumber air bersih.
Kondisi sanitasi yang memburuk di tempat pengungsian sementara juga memicu lonjakan penyakit infeksi saluran pencernaan, kulit, serta ISPA. Direktur Proyek Venezuela untuk organisasi kemanusiaan Project HOPE, Carolina de Jesus, mengungkapkan bahwa bau jenazah masih tercium kuat di beberapa permukiman warga.
"Bau mayat sangat menyengat," kata Carolina de Jesús, Direktur Proyek Venezuela untuk Project HOPE.
Carolina de Jesus menambahkan bahwa masyarakat menghadapi ketidakpastian tinggi terkait masa depan mereka pascabencana.
"Ada harapan, tetapi juga tekanan yang sangat besar tentang apa yang akan terjadi besok," kata Carolina de Jesús, Direktur Proyek Venezuela untuk Project HOPE.
Carolina de Jesus juga menyoroti risiko gangguan kesehatan akibat debu semen dan puing-puing bangunan yang dihirup para relawan serta warga lokal setiap hari.
"Salah satu tantangan utamanya adalah bagaimana memulihkan seluruh layanan perawatan esensial," kata Carolina de Jesús, Direktur Proyek Venezuela untuk Project HOPE.
Di tengah kondisi darurat ini, pencarian korban selamat maupun jenazah keluarga masih terus dilakukan secara mandiri oleh warga lokal di antara puing bangunan.
"Saya tidak tahu apakah dia masih hidup, apakah dia sudah meninggal, apakah dia ada di rumah sakit, atau masih di bawah reruntuhan," kata Mary Cruz Andueza, warga terdampak gempa bumi.
Mary Cruz Andueza mengungkapkan bahwa dirinya mengalami sakit fisik setelah berhari-hari berada di lokasi reruntuhan untuk mencari keberadaan ibunya.
"Debu itu membuat saya sakit parah. Kami mengalami batuk, alergi, demam, dan sakit kepala karena kami bekerja sangat dekat dengan bangunan yang runtuh setiap hari," kata Mary Cruz Andueza, warga terdampak gempa bumi.
PBB telah mengeluarkan imbauan bantuan tambahan sebesar 296 juta dolar AS untuk membantu 1,3 juta jiwa selama enam bulan ke depan. Sejumlah lembaga internasional dan organisasi keagamaan seperti Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir, Caritas, dan Palang Merah terus menyalurkan bantuan pangan, fasilitas air bersih, serta posko medis darurat.
"Mengikuti Yesus Kristus berarti berdiri di samping mereka yang sedang melalui masa-masa sulit," kata Elder Juan F. Zorrilla, Area Seventy Gereja dari Caracas, Venezuela.
Elder Juan F. Zorrilla berharap bantuan medis, pangan, dan fasilitas air yang disalurkan dapat memberikan pengharapan bagi para korban.
"Harapan kami adalah bahwa bantuan ini tidak hanya mewakili bantuan material, tetapi juga sebagai pengingat bahwa Tuhan mencintai anak-anak-Nya dan bahwa, secara bersatu, kita dapat membawa harapan bagi mereka yang paling membutuhkannya," kata Elder Juan F. Zorrilla, Area Seventy Gereja dari Caracas, Venezuela.
Dalam ranah penanganan kesehatan masyarakat, tim medis internasional mengkhawatirkan munculnya wabah penyakit menular di fasilitas penampungan yang padat.
"Gempa bumi tidak menyebabkan wabah secara langsung. Risikonya berasal dari kondisi pascabencana," kata Dr. Mauricio Cerpa, Epidemiolog Pusat Operasi Darurat PAHO.
Dr. Mauricio Cerpa mengingatkan pentingnya pemulihan penanganan medis medis dasar bagi penderita penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi di wilayah terdampak.
"Salah satu tantangan utamanya adalah bagaimana memulihkan seluruh perawatan esensial," kata Dr. Mauricio Cerpa, Epidemiolog Pusat Operasi Darurat PAHO.
Krisis kemanusiaan ini diperkirakan akan berlangsung panjang seiring peralihan fokus bantuan dari tanggap darurat awal menuju pemulihan layanan kesehatan dasar dan rekonstruksi pemukiman warga.
"Kebutuhan hanya akan terus meningkat mulai dari titik ini ke depan," kata Alycia Clark, Wakil Presiden Direct Relief.
Proses pembersihan reruntuhan dan survei kelayakan bangunan di area terdampak saat ini masih terus berjalan di bawah pengawasan ketat pihak berwenang.