GoTo Raih Laba Bersih Rp607,48 Miliar pada Semester I 2026

Share

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp607,48 miliar pada semester I-2026 pada Rabu (29/7/2026), membalikkan kondisi rugi bersih sebesar Rp580,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian positif perseroan ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 28,45 persen (yoy) mencapai Rp10,99 triliun, didukung pendapatan jasa pengiriman Rp3,2 triliun, imbalan jasa Rp3,15 triliun, imbalan e-commerce Rp550,72 miliar, dan iklan Rp254,45 miliar.

Di sisi lain, biaya dan beban perseroan tercatat membengkak 16,87 persen (yoy) menjadi Rp10,21 triliun, sedangkan total aset perseroan per 30 Juni 2026 mencapai Rp47,47 triliun.

Perseroan berhasil mempertahankan tren positif profitabilitas operasional selama dua triwulan berturut-turut pada tahun berjalan.

"Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya," ujar Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo.

Seiring pemberlakuan penyesuaian komisi transportasi roda dua Gojek sebesar 8 persen sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 mulai 1 Juli 2026, perseroan melakukan penyesuaian terhadap target kinerjanya.

"Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7 persen dari pendapatan bersih Grup. Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil," ujar Hans Patuwo.

Manajemen optimistis dampak kebijakan regulasi baru tersebut dapat teratasi sehingga pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh tetap dijaga pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.

"Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar," ujar Hans Patuwo.

Dukungan terhadap ekosistem terus dilakukan perseroan melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, mencakup kepesertaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga fasilitas umrah gratis.

"Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo," ujar Hans Patuwo.

Pedoman kinerja unit bisnis Fintech kemudian ditingkatkan menjadi Rp1,7 triliun-Rp1,8 triliun, sementara target On-demand Services disesuaikan turun ke rentang Rp1,4 triliun-Rp1,5 triliun.

"Konsensus analis sekarang memang masih condong ke buy, karena selain fundamental juga harga sudah di Rp50, risiko penurunan juga sangat rendah," ujar Analis OCBC Sekuritas Gani.

Konsensus Bloomberg mencatat 77 persen atau 24 dari 31 sekuritas memberikan rekomendasi beli saham GOTO dengan rata-rata target harga Rp80 per saham.

"Momentum earnings Q2 sangat penting bagi investor tentang konsistensi profitabilitas GOTO sebelum dampak komisi ojol 8% dirasakan. Di sisi lain, pasar berharap mendapat kejelasan tentang seberapa besar dampak kebijakan komisi yang baru terhadap kinerja GOTO," ujar Gani.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia mempertahankan posisi saham GOTO dalam indeks LQ45, IDX30, dan IDX80 berdasarkan kriteria rata-rata likuiditas historis.

"Likuiditasnya, kan, nggak dihitung cuma sebulan-dua bulan, rata-rata enam bulan atau 12 bulan terakhir sebelum evaluasi. Jadi kalau dia masih ada berarti mungkin di bulan-bulan sebelumnya memang likuiditasnya masih kencang," ujar Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy.

Irvan menjelaskan evaluasi indeks bursa mengacu pada metodologi kuantitatif yang konsisten tanpa merubah parameter dasar penentuan konstituen.

"Menurut saya, sih, GOTO sama. Jadi dia masih cukup likuid di bulan-bulan sebelumnya sehingga masih cukup memenuhi syarat," ujar Irvan Susandy.

Perseroan juga membatalkan rencana alokasi 32,18 miliar saham Seri A hasil buyback untuk program ESOP/MSOP dan mengalihkannya melalui mekanisme pengurangan modal yang menunggu persetujuan RUPS.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: ekonomi GOTO Saham GOTO
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author