Pasar Cermati Peluang Kenaikan Suku Bunga Pertemuan FOMC Juli 2026
Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, menggelar rapat Federal Open Market Committee pada 28–29 Juli 2026 untuk menentukan arah suku bunga acuan yang saat ini berada di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.
Pertemuan ini menjadi momen kedua yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh setelah resmi menjabat pada Mei 2026. Pelaku pasar keuangan memproyeksikan peluang sebesar 67 persen bagi bank sentral untuk menahan suku bunga, sementara probabilitas kenaikan sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 33 persen hingga 36,3 persen.
Ekspektasi pengetatan moneter meningkat menyusul kenaikan kembali harga minyak mentah Brent yang sempat menembus 100 dolar AS per barel akibat konflik AS-Iran. Kendati demikian, angka inflasi konsumen AS pada Juni melandai menjadi 3,5 persen secara tahunan, dari posisi 4,2 persen pada bulan sebelumnya.
Analis pasar IG Fabien Yip menilai bank sentral masih mencermati ketahanan risiko inflasi sebelum mengambil langkah lanjutan.
"Saya masih berpikir The Fed membutuhkan lebih banyak petunjuk mengenai berapa lama risiko inflasi akan berlangsung," ujar Yip.
Kekhawatiran terhadap tekanan harga yang meluas juga memicu perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral. Presiden The Fed Dallas Lorie Logan dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack telah mengisyaratkan dukungan terhadap kenaikan suku bunga demi mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Sikap disiplin moneter tersebut dinilai sejumlah ekonom perlu diambil lebih awal guna menjaga stabilitas jangka panjang.
"Lebih baik melakukan sedikit sekarang daripada banyak nanti," kata Dutta.
Di sisi lain, tidak semua pihak sepakat dengan opsi kenaikan secara mendadak dalam rapat kali ini. Wakil Ketua Evercore ISI Krishna Guha memperkirakan bank sentral cenderung memilih opsi penahanan suku bunga.
"Kami pikir The Fed mungkin tidak akan menaikkan suku bunga. Akan aneh jika melakukannya tepat setelah angka inflasi Juni yang lebih baik, mengingat jalur yang tidak rumit untuk menaikkan suku bunga pada bulan September jika diperlukan," kata Guha.
Meskipun demikian, Guha menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pimpinan bank sentral.
"Tetapi kita tidak bisa meremehkan kemungkinan tersebut mengingat penolakan Warsh untuk menjelaskan strateginya. … Kami tidak melihat tekanan luas pada komite untuk menaikkan suku bunga sekarang. Tetapi suara yang dibutuhkan ada jika Warsh ingin melakukannya," lanjut dia.
Di ranah politik, langkah The Fed terus mendapat sorotan dari pemerintah federal. Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginan agar biaya pinjaman diturunkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Kita seharusnya memiliki suku bunga terendah di dunia," kata Trump.
Trump juga memberikan pandangannya terkait kepemimpinan di dalam struktur bank sentral tersebut.
"Kevin fantastis, tetapi dia memiliki dewan, dan anggota dewan sangat politis," ujarnya.
Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS turut memberikan dampak langsung terhadap pasar keuangan global. Indeks dolar AS menguat ke level 101,55 pada perdagangan Selasa (28/7/2026), didorong oleh ketatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek.
Analis melihat potensi lonjakan dolar lebih lanjut apabila bank sentral secara mengejutkan memutuskan menaikkan suku bunga.
"Jika The Fed benar-benar memberikan kejutan berupa kenaikan suku bunga, hal itu hampir pasti akan mendukung penguatan dolar AS. Dolar berpotensi mencetak level tertinggi baru, terutama terhadap mata uang dengan imbal hasil rendah seperti yen Jepang dan franc Swiss," kata Zaman.
Kondisi pasar yang berspekulasi tinggi ini dinilai sebagai konsekuensi dari minimnya petunjuk resmi dari pihak bank sentral.
"Dengan sedikit panduan tentang hal itu… Dalam fungsi reaksi di bawah ketua baru, pasar mengisi kekosongan dengan spekulasi bahwa Warsh mungkin mengincar kenaikan suku bunga secara tiba tiba untuk memperkuat kredibilitas anti inflasi," tulis ekonom Barclays.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa dinamika pasar saat ini berisiko memengaruhi arah kebijakan moneter itu sendiri.
"Risikonya adalah spekulasi itu sendiri mulai membentuk kebijakan," tulis ekonom Barclays.
Di sisi lain, pertimbangan strategis dinilai menjadi alasan utama di balik potensi langkah agresif dari pimpinan baru The Fed.
"Menurut pandangan kami, kenaikan suku bunga (terutama 50 basis poin) lebih didorong oleh motif pencitraan dan kredibilitas," tulis Tang.
Selain pengumuman suku bunga The Fed pada Rabu (29/7/2026) waktu AS, pelaku pasar global juga menantikan hasil rapat kebijakan moneter dari Bank of England pada Kamis (30/7/2026) dan Bank of Japan pada Jumat (31/7/2026).
Strategis pasar memperkirakan Bank of Japan perlu menunjukkan komitmen kuat terhadap penanganan inflasi.
"Dengan asumsi suku bunga tidak berubah, kami memperkirakan BoJ perlu menyampaikan nada yang cukup hawkish agar pasar yakin bank sentral serius mencapai target inflasi sekaligus mendukung penguatan yen," ujar Ryan.