Beras Ketan Jadi Rahasia Kekuatan Bangunan Tembok Besar China
Rahasia kekokohan struktur Tembok Besar China yang mampu bertahan melintasi berbagai zaman akhirnya terungkap. Teknologi konstruksi kuno memperlihatkan keterlibatan bahan pangan lokal sebagai perekat material bangunan. Dikutip dari Detik Food, penggunaan bahan unik tersebut membantu meningkatkan ketahanan struktur bangunan dari kehancuran alami.
Penelitian mencatat bahwa bahan yang dicampurkan dalam adukan bangunan tersebut adalah beras ketan. Pembangunan bagian terawal Monumen sepanjang lebih dari 21.000 kilometer di utara China ini diperkirakan telah dimulai sekitar 2.800 tahun lalu. Pembuatan adukan perekat batu bata menggunakan olahan sup beras ketan yang dipadukan dengan kapur marak diterapkan pada era Dinasti Ming.
Dikenal dengan sebutan sticky rice mortar atau mortar beras ketan, racikan ini menjadi pelopor penggabungan material organik dan anorganik pada dunia konstruksi kuno. Unsur amilopektin dari beras ketan memegang peranan kunci dalam menciptakan kepadatan adukan.
Interaksi kimia antara amilopektin dan kalsium karbonat dalam kapur menghasilkan daya rekat yang lebih kuat. Reaksi ini efektif meminimalkan risiko munculnya retakan pada dinding bangunan. Sifat mortar beras ketan juga memiliki ketahanan tinggi terhadap paparan air. Karakteristik ini membuat bangunan mampu bertahan dalam berbagai gempuran cuaca ekstrem selama bertahun-tahun.
Riset Kuno dan Penggunaan di Bangunan Lain
Studi ilmiah dari Zhejiang University mengonfirmasi bahwa mortar beras ketan memiliki keunggulan mekanis yang tinggi. Tingkat kestabilannya tercatat melampaui adukan kapur konvensional.
Inovasi material ini tidak hanya diterapkan pada pembangunan Tembok Besar China. Beberapa landmark bersejarah lain di China tercatat memanfaatkan formula serupa.
Penggunaan material perekat ini ditemukan pada struktur tembok kota Xi'an dan Nanjing. Selain itu, kompleks makam kekaisaran, pagoda, hingga bangunan kuil kuno juga mengaplikasikan teknologi campuran beras ketan ini.