Komdigi Klarifikasi Pernyataan Prabowo Soal ‘Londo Ireng’ dan Kritikan Media
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memberikan klarifikasi terkait penggunaan istilah "londo ireng" oleh Presiden Prabowo Subianto yang menimbulkan polemik. Pernyataan tersebut ditegaskan bukan ditujukan untuk menyerang media atau kelompok tertentu, melainkan sebagai kiasan politik untuk mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap narasi pesimisme terhadap Indonesia.
Fifi Aleyda Yahya, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi, mengatakan penting bagi publik untuk memahami pernyataan Presiden secara menyeluruh dan tidak terpaku pada satu istilah yang dapat mengaburkan pesan utama.
"Yang disampaikan Presiden adalah ajakan untuk tetap waspada terhadap pihak-pihak yang sengaja merangkai narasi seolah-olah Indonesia tidak memiliki harapan dan tidak sedang bergerak maju. Kritik tentu diperlukan, tetapi berbeda dengan upaya membangun pesimisme secara sistematis," ujar Fifi, dikutip dari keterangan tertulis Komdigi pada 29 Juli 2026.
Fifi menambahkan bahwa Presiden justru menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik dari masyarakat, termasuk pemberitaan mengenai kerusakan sekolah yang dianggap sebagai masukan penting untuk ditindaklanjuti pemerintah.
"Presiden memandang kritik, termasuk pemberitaan mengenai sekolah yang mengalami kerusakan, sebagai masukan yang penting untuk diungkap," kata Fifi.
Berbagai temuan lapangan mendapat perhatian dari pemerintah dan direspon dengan langkah perbaikan. Hal ini menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan itikad baik menjadi bagian dari proses pembangunan Indonesia yang lebih baik.
Komdigi juga membantah anggapan bahwa pernyataan Presiden merupakan serangan terhadap kebebasan pers. Fifi menegaskan pemerintah tetap menghormati kemerdekaan pers, kritik masyarakat, serta peran elemen bangsa dalam demokrasi.
Meski begitu, pemerintah mengingatkan agar ruang publik tidak dipenuhi narasi negatif yang menonjolkan masalah tanpa melihat upaya penyelesaian yang sedang berjalan.
"Pemerintah akan terus memilih jalan kerja nyata sebagai jawaban atas berbagai kritik publik. Fokus pemerintah adalah menyelesaikan persoalan satu per satu, mempercepat perbaikan di lapangan, dan memastikan masyarakat merasakan manfaatnya. Ruang demokrasi tetap terbuka, tetapi mari bersama-sama menjaga agar kritik menjadi energi perbaikan," tutup Fifi.