Satgas PRR Aktifkan Tambak dan Perkebunan Kopi Aceh Pasca-Bencana
Pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana di Provinsi Aceh terus diperkuat oleh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera melalui aktivasi sektor-sektor produktif. Langkah ini dilakukan melalui rehabilitasi tambak, pendampingan petambak, hingga pembagian bibit kopi untuk mengembalikan mata pencaharian warga secara berkelanjutan.
Sektor ekonomi menjadi satu dari lima klaster utama Satgas PRR selain permukiman, infrastruktur, sosial, dan tata kelola. Upaya ini mencakup bidang pertanian, perkebunan, perikanan, UMKM, pasar rakyat, dan pariwisata, seperti dilansir dari Detikcom.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membidik 15.000 hektare tambak terdampak di Aceh agar beroperasi penuh pada akhir 2026. Tahap awal menargetkan 5.200 hektare difungsikan paling lambat September 2026, dengan 694 hektare di antaranya telah beroperasi hingga akhir Juli melalui penebaran benih udang, bandeng, kakap, dan nila salin.
Sekretaris Jenderal KKP, Andy Artha Donny Oktopura menyampaikan bahwa tolok ukur keberhasilan program ini terletak pada kembalinya penghasilan warga, bukan sekadar penyelesaian fisik.
"Tujuan kami bukan sekadar memperbaiki tambak, tetapi memastikan masyarakat kembali berproduksi. Karena itu, setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budidaya," ujar Andy dalam keterangannya, Rabu (29/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Andy kala melakukan peninjauan lokasi tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.
Dukungan alat berat berupa 12 unit ekskavator telah disalurkan KKP ke wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, di mana delapan unit di antaranya dialokasikan khusus untuk perbaikan tambak di Aceh. Sektor perikanan tangkap juga menerima bantuan mesin kapal dan 100 unit kotak pendingin berkapasitas 300 liter untuk nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.
Penerapan teknologi tradisional plus pada tambak diperkirakan mampu memproduksi 600 kilogram udang per hektare dalam satu siklus tiga bulan. Dengan estimasi harga Rp50.000 per kilogram, potensi omzet yang dihasilkan mencapai Rp30 juta per hektare per siklus.
Seluruh sarana produksi, benih, dan pakan disalurkan secara gratis dengan pengawalan penyuluh perikanan serta dinas terkait hingga masa panen tiba.
Fazil, petambak asal Pidie Jaya, menyampaikan bahwa bantuan ini menjadi modal awal untuk membangkitkan usahanya yang sempat lumpuh akibat bencana.
"Bantuan benih dan pakan ini sangat membantu kami untuk kembali beroperasi. Saya yakin tiga bulan ke depan sudah bisa panen," ujarnya.
Dukungan Sektor Perkebunan Kopi Gayo
Penguatan ekonomi juga menyasar sektor perkebunan melalui penyediaan 4 juta bibit kopi oleh Kementerian Pertanian (Kementan) guna memulihkan kawasan Gayo dan menjaga komoditas unggulan daerah.
Kepala Posko Satgas PRR Wilayah Aceh, Safrizal ZA menegaskan komitmen pemerintah dalam menstimulasi kebangkitan ekonomi lokal.
"Untuk kawasan Gayo, sebanyak empat juta bibit kopi sudah siap disalurkan. Ini merupakan bagian dari upaya untuk menstimulasi, mengakselerasi, dan memulihkan kembali perekonomian Aceh yang sebelumnya sempat terdampak," kata Safrizal.