IFAB dan FIFA Soroti Kartu Merah Breel Embolo di Piala Dunia 2026

Share

Badan Pembuat Hukum Sepak Bola Internasional (IFAB) mengonfirmasi bahwa kartu merah yang diterima penyerang Swiss Breel Embolo saat menghadapi Argentina di perempat final Piala Dunia 2026 di Kansas City Stadium, 11 Juli lalu, merupakan kesalahan penerapan protokol Video Assistant Referee (VAR).

Hukuman kartu kuning kedua yang berujung kartu merah bagi Embolo pada menit ke-72 mengubah dinamika pertandingan hingga Argentina akhirnya menang 3-1 melalui perpanjangan waktu. Wasit Joao Pinheiro asal Portugal membatalkan kartu kuning gelandang Argentina Leandro Paredes dan mengalihkannya kepada Embolo atas dugaan simulasi melalui klausal salah identitas.

IFAB menjelaskan bahwa protokol salah identitas saat ini hanya diizinkan untuk mengidentifikasi pemain yang melakukan pelanggaran yang dihukum, bukan untuk meninjau atau mengubah jenis pelanggarannya. Lembaga yang berbasis di Zurich tersebut menegaskan keputusannya dalam edisi sirkuler terbaru.

"Namun, hal itu tidak boleh digunakan seperti itu sampai peninjauan tersebut selesai," kata IFAB.

"Kartu kuning (peringatan) yang bukan kartu kuning kedua hanya dapat ditinjau untuk mengidentifikasi pemain yang melakukan pelanggaran yang dihukum; pelanggaran itu sendiri tidak dapat ditinjau/diubah," tulis IFAB.

"Penggunaan klausa salah identitas untuk menangani simulasi selama Piala Dunia FIFA 2026 diterima dengan baik dan akan dimasukkan dalam peninjauan terperinci terhadap protokol VAR yang diumumkan dalam sirkuler no. 32. Namun, hal itu tidak boleh digunakan seperti itu sampai peninjauan tersebut selesai," tambah IFAB.

Pelatih timnas Swiss Murat Yakin menyatakan kekecewaannya atas keputusan wasit yang dinilainya merusak permainan timnya di babak perempat final tersebut.

"Wasit membuat keputusan yang salah," kata Murat Yakin.

"Saya tahu mereka akan melindungi wasit mereka, tetapi aturan ini merusak permainan kami hari ini, dan ini sangat menyakitkan, dan tereliminasi dengan cara seperti itu sangat menyakitkan," ujar Murat Yakin.

Di sisi lain, juru bicara FIFA menegaskan bahwa penerapan protokol tersebut diterapkan secara konsisten sepanjang turnamen dan bertujuan untuk menegakkan keadilan di lapangan.

"Keputusan tersebut mengembalikan keadilan," kata FIFA.

"Interpretasi FIFA tentang Salah Identitas diterapkan secara konsisten di seluruh Piala Dunia FIFA. Ada dua kejadian di mana seorang pemain secara keliru diidentifikasi melakukan pelanggaran kartu kuning, dan VAR menyarankan wasit untuk mengoreksi kesalahan faktual yang disebabkan oleh simulasi lawan. Simulasi itu sendiri tidak dapat diperdebatkan dan tidak boleh menghasilkan sanksi disiplin terhadap lawan yang dapat berakibat lebih lanjut, seperti pengusiran karena kartu kuning kedua atau larangan bertanding akibat akumulasi kartu kuning," ungkap FIFA.

"Kami tidak menganggap ini sebagai kesalahan oleh wasit atau VAR, dan keputusan tersebut mengembalikan keadilan. Kami mencatat komentar IFAB dalam Sirkulernya, telah berkomunikasi dengan mereka sepanjang proses, dan mereka mengonfirmasi bahwa interpretasi ini valid, diterima dengan baik, dan akan menjadi bagian dari diskusi mengenai revisi Protokol VAR, seperti yang dibahas pada AGM baru-baru ini," tambah FIFA.

Wasit pertandingan, Joao Pinheiro, turut memberikan penjelasan mengenai pertimbangannya di lapangan serta insiden ketegangan dengan kapten Argentina, Lionel Messi, yang sempat melancarkan protes keras.

"Kami melihat bahwa tidak ada pelanggaran dan itu adalah pura-pura jatuh," kata Joao Pinheiro.

"Dan karena itu adalah kartu kuning kedua, itu mengakibatkan pemain diusir keluar lapangan. Jika itu yang pertama, keputusannya akan persis sama," jelas Joao Pinheiro.

"Messi menyampaikan beberapa hal kepada saya, begitu pula pemain lain. Kapten tim lebih banyak berkomunikasi dengan wasit, dan aturan baru memungkinkan dialog ini," ujar Joao Pinheiro.

"Karena itu Messi, masalah ini mendapat perhatian lebih besar, tetapi ini terjadi pada banyak pesepak bola. Ketika melibatkan Messi atau Cristiano Ronaldo, situasi ini dilihat secara berbeda," tambah Joao Pinheiro.

"Itu adalah dialog yang konstruktif. Kami tidak diwajibkan untuk memberi kartu kepada semua orang. Mungkin dia salah memahami sesuatu yang saya lakukan, kami berbicara, kami saling memahami, dan kemudian kami melanjutkan permainan," tutur Joao Pinheiro.

"Tidak ada kata-kata untuk menggambarkan keajaiban Piala Dunia. Seseorang tidak menyadari keagungannya sampai dia mengalaminya sendiri," ungkap Joao Pinheiro.

Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) turut menyambut baik klarifikasi panduan dari IFAB sebagai acuan evaluasi bagi para wasit untuk kompetisi antarklub dan antarnegara musim depan.

"VAR tidak dimaksudkan untuk memimpin ulang pertandingan," tegas UEFA.

"Peninjauan yang panjang dan mikroskopis sering kali merupakan gejala yang mengungkapkan bahwa keputusan di lapangan tidak jelas dan salah secara nyata, dan oleh karena itu harus dibatasi," kata UEFA.

"Wasit akan diinstruksikan untuk menegakkan aturan baru secara ketat dan konsisten," tambah UEFA.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author