Sosiolog Unair Soroti Fenomena SD Kekurangan Murid di Demak

Share

Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Rafi Aufa Mawardi memberikan tanggapan terkait fenomena Sekolah Dasar di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang kekurangan murid baru pada Selasa (28/7/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Rafi menilai fenomena tersebut menyimpan persoalan sosiologis yang mendalam terkait dinamika peta pendidikan di Indonesia. Menurutnya, kondisi ini menjadi penanda bahwa paradigma serta orientasi orang tua terhadap institusi pendidikan telah mengalami perubahan mendasar.

Pergeseran perilaku masyarakat kini berfokus pada kualitas pendidikan, lingkungan sosial, penanaman moralitas, dan reputasi sekolah, tidak lagi sekadar aksesibilitas seperti pada masa lalu. Keadaan tersebut membuat sekolah negeri tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan utama bagi para orang tua.

"Dulu intinya anaknya bisa sekolah, tetapi hari ini adalah bagaimana anaknya dapat sekolah secara berkualitas," tutur Rafi Aufa Mawardi, Pakar sekaligus Dosen Sosiologi FISIP Unair.

Penguatan nilai moralitas sejak usia dini membuat sekolah swasta berbasis agama, seperti SDIT dan Madrasah, menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat. Keputusan menyekolahkan anak ke lembaga berbayar tersebut dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang yang memadukan modal ekonomi, sosial, budaya, dan moralitas agama.

"Orang tua tidak hanya melihat akses, tetapi juga melihat aspek-aspek yang lebih fundamental. Hal itu terkait lingkungan sosial sekolahnya, nilai-nilai moralitas, dan reputasi sekolah," sebut Rafi Aufa Mawardi, Pakar sekaligus Dosen Sosiologi FISIP Unair.

Pilihan sekolah berbayar dinilai memberi manfaat lebih luas dalam konteks pengembangan anak secara menyeluruh di lingkungan sosialnya.

"Di sekolah-sekolah yang mungkin berbayar lebih mahal dilihat sebagai social investment jangka panjang yang mengintegrasikan nilai-nilai moralitas agama, modal-modal ekonomi, modal sosial, maupun modal budaya," sambung Rafi Aufa Mawardi, Pakar sekaligus Dosen Sosiologi FISIP Unair.

Mengenai ruang kelas yang hanya diisi tiga siswa seperti di Demak, Rafi menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak ideal karena membatasi variasi interaksi sosial murid, meskipun pembelajaran bisa berlangsung lebih fokus.

Menanggapi wacana Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti yang mengusulkan merger atau penggabungan sekolah untuk mengatasi persoalan ini, Rafi mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak didasarkan pada pertimbangan efisiensi ekonomi semata.

"Merger itu efisien dalam konteks institusi ekonomi seperti perusahaan, tetapi sekolah tidak dapat terreplikasi secara sistemik seperti institusi ekonomi. Jika pemerintah ingin melakukan merger, perlu adanya kajian yang lebih komprehensif terkait akses, transportasi, dan dampaknya terhadap identitas komunitas," tegas Rafi Aufa Mawardi, Pakar sekaligus Dosen Sosiologi FISIP Unair.

Selain pergeseran nilai sosial, efektivitas sistem zonasi atau domisili turut menjadi sorotan. Kendala teknis sering muncul akibat tidak seimbangnya proporsi jumlah sekolah dengan populasi usia sekolah di suatu wilayah, yang semakin diperparah oleh penurunan angka kelahiran.

"Ketika ada penurunan angka kelahiran dan demografi di situ tidak ada anak usia SD, zonasi pada akhirnya menjadi perangkap. Hal itu membuat sekolah semakin sedikit diminati karena gagal membaca korelasi antara jumlah sekolah dan jumlah siswanya," tandas Rafi Aufa Mawardi, Pakar sekaligus Dosen Sosiologi FISIP Unair.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author