BMKG Ungkap Penyebab Fenomena Bediding yang Memicu Suhu Cold di Jawa
Suhu udara dingin melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa pada malam hingga pagi hari. Fenomena musiman yang dikenal sebagai bediding ini marak diperbincangkan warganet di media sosial, dilansir dari Detik Health.
"Cirebon daerah Sepantura ini kena angin dingin, dan suhu segini aja gue langsung pilek. Mana airnya dingin banget," ucap salah satu netizen @Ich*******, dikutip dari X.
"Gue bisa merasakan jari-jari kaku di Jatinangor dingin banget," ucap netizen lainnya @koi*******.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa dinamika atmosfer ini dipicu oleh penguatan Monsun Australia. Angin musiman tersebut membawa massa udara kering sehingga menekan pembentukan awan serta mengurangi uap air.
Minimnya tutupan awan memicu pelepasan panas permukaan bumi ke atmosfer secara cepat pada malam hari. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan suhu udara secara drastis menjelang pagi.
"Tanpa selimut awan, panas bumi terlepas bebas ke angkasa di malam hari yang membuat suhu minimum anjrok drastis, khususnya menjelang pagi hari," kata BMKG, dikutip dari Instagram resmi, Selasa (28/7/2026).
Dosen FMIPA IPB University, Dr Givo Alsepan, mengonfirmasi bahwa bediding merupakan proses fisik atmosfer yang wajar saat kemarau. Penurunan suhu minimum harian terjadi akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif.
"Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin," ujarnya, dikutip dari laman IPB.
"Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, maupun sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas," urainya.
Givo menambahkan, perkembangan fenomena El Nino berpotensi memperkuat kondisi kemarau di Indonesia. Penurunan curah hujan dan kelembapan udara memperlancar proses pendinginan radiasi sehingga memperbesar peluang terjadinya bediding.
Wilayah Terdampak dan Potensi Embun Beku
Penurunan suhu paling signifikan dirasakan di kawasan dataran tinggi dan pegunungan. BMKG mencatat wilayah Bromo dan Dieng mengalami penurunan suhu yang sangat drastis.
"Data AWS BMKG mencatat, suhu di Bromo menyentuh angka 3,9 derajat Celcius pada tanggal 11 Juni kemarin. Tapi Dieng juaranya, suhunya hampir menyentuh titik beku di angka 0,7 derajat Celcius," ucap BMKG, dikutip dari Instagram resminya, Selasa (28/7/2026).
"Saking dinginnya fenomena bediding ini, di daerah dataran tinggi seperti Gunung Bromo, air embun yang menempel di daun bisa membeku jadi kristal es, mirip hampalan salju," lanjut BMKG.
Givo menjelaskan bahwa udara dingin memiliki kecenderungan mengalir dan berkumpul di area lembah. Di kawasan seperti Dataran Tinggi Dieng, fenomena ini dapat memicu munculnya embun upas atau embun beku.
Durasi dan Imbauan Kesehatan
Data historis BMKG dalam dekade terakhir menunjukkan penurunan suhu mulai terjadi pada Juli dan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus. Givo memproyeksikan fenomena ini bertahan hingga puncak kemarau pada akhir Juli hingga Agustus, bahkan awal September di beberapa kawasan.
Masyarakat diimbau menjaga kondisi fisik, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Udara dingin serta kering dapat memicu kumatnya asma, influenza, dan infeksi saluran pernapasan.
Asupan cairan tubuh harus tetap dijaga meski cuaca dingin, disertai peningkatan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan. Givo menekankan masyarakat tidak perlu panik karena bediding merupakan siklus iklim tahunan, namun tetap perlu memantau pembaruan informasi cuaca dari BMKG.