UEFA membahas potensi boikot Piala Dunia imbas rencana investasi FIFA

Share

UEFA mempercepat upaya menggelar rapat darurat bagi 55 asosiasi anggotanya pekan ini untuk membahas rencana FIFA menghimpun 20 miliar dolar dari penjualan saham kepada investor luar, dengan kemungkinan boikot Piala Dunia.

FIFA menyatakan rencananya akan membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE) untuk mengendalikan operasi komersial dan penyelenggaraan, termasuk edisi Piala Dunia putra dan putri berikutnya, serta menargetkan penggalangan dana hingga 4,2 miliar dolar tahun ini.

UEFA menilai sepak bola tidak boleh dijual oleh FIFA. FIFA juga menyiapkan skema “FIFA Fast-Forward Program” yang menurut rencana menaikkan akses dana pengembangan asosiasi dari 8 juta dolar per siklus 2027-30 menjadi 20 juta dolar, lalu 22 juta dolar, dan 24 juta dolar pada siklus berikutnya.

“UEFA takes it extremely seriously. So should every National Football Association. So should every stakeholder: leagues, clubs, players, supporters, governments and everyone who cares about the future of the game.” UEFA menilai rencana ini sangat serius, dan menekankan peran pemangku kepentingan sepak bola, seperti asosiasi nasional.

“The soul and governance of football are not assets to trade — especially with zero transparency as to who gains financially.” UEFA menyatakan tata kelola sepak bola bukan aset yang dapat diperdagangkan, terutama tanpa transparansi siapa yang memperoleh keuntungan.

“None of us are the owners of football. It is not FIFA's to sell.” UEFA menegaskan tidak ada pihak yang menjadi pemilik sepak bola dan menyatakan FIFA tidak berhak menjualnya.

PM Andy Burnham mengkritik rencana FIFA lewat akun X dengan menyatakan “football doesn't belong to investors.” Ia menulis bahwa sepak bola tidak dimiliki investor.

FIFA, yang bekerja dengan J.P. Morgan, menyebut Thrive Eternal sebagai bagian dari kelompok investor yang diharapkan memimpin investasi untuk FFE, sementara FIFA mengatakan proses konsultasi telah dimulai.

FIFA juga menyatakan FFE akan menerima kepemilikan minoritas non-pengendali, dan FIFA tetap memegang kendali serta otoritas eksklusif atas tata kelola sepak bola, kompetisi, kalender pertandingan, serta semua keputusan regulatori dan olahraga.

Rencana boikot itu diperkirakan akan menggunakan pola penolakan yang pernah terjadi pada 2021, saat FIFA membatalkan usulan penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun karena ancaman boikot UEFA.

FIFA mengatakan anggota federasi bisa memilih ikut pada peluang finansial baru, dan menyebut tidak ada jadwal yang dipaparkan pada Selasa untuk perdebatan serta keputusan di dewan yang dipimpin Infantino.

FIFA dijadwalkan menggelar kongres daring pada 23 November untuk menetapkan tuan rumah edisi Piala Dunia Wanita 2031 dan 2035.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author