Sam Altman Klaim AI Capai Singularitas Pakar Cambridge Buka Suara

Share

Pernyataan mengejutkan datang dari CEO OpenAI Sam Altman yang mengklaim bahwa teknologi kecerdasan buatan atau AI telah memasuki fase singularitas. Momen hipotesis ini menandai era ketika kecerdasan mesin melampaui kemampuan manusia. Hal itu dilansir dari Detik iNET yang mengutip diskusinya dalam podcast Relentless baru-baru ini.

"Kita sekarang sepertinya berada di dalam singularitas. Saya menunggu hal ini sepanjang hidup saya, dan saya pikir ini akan menjadi luar biasa, sangat positif, dan mengagumkan bagi dunia," kata Altman.

Istilah singularitas sendiri merujuk pada titik hipotesis ketika AI mampu meningkatkan dirinya sendiri secara otonom tanpa bisa dikontrol manusia. Konsep ini kerap diangkat dalam film fiksi ilmiah seperti Transcendence, Ex Machina, hingga trilogi The Matrix.

Altman yang memimpin OpenAI dengan produk ChatGPT berikhtiar melawan anggapan bahwa AI berbahaya bagi peradaban. Padahal pada tahun lalu, ia sempat memprediksi bahwa AI baru akan melampaui kecerdasan manusia pada 2030.

"Saya akan memastikan hal itu dilawan dan tidak menjadi kenyataan," sebutnya saat mengkritik para pemimpin AI lain yang mengkhawatirkan risiko teknologi ini.

Pandangan Altman tersebut berbanding terbalik dengan penilaian para ahli. Sean O hEigeartaigh selaku Direktur Eksekutif Cambridge University's Centre for the Study of Existential Risk membantah bahwa singularitas telah terjadi saat ini.

"Berdasarkan definisi yang saya pahami, singularitas adalah titik hipotesis di mana AI begitu mumpuni dan maju sangat cepat sehingga mengubah peradaban dengan cara yang tidak dapat kita kendalikan atau prediksi. Ini kemungkinan besar akan terjadi melalui AI yang dengan cepat merancang generasi AI di masa depan. Kita belum sampai di sana," paparnya kepada Al Jazeera.

Sikap Sean sejalan dengan ilmuwan komputer Demis Hassabis yang menyebut manusia baru berada di kaki bukit singularitas pada Mei 2026. Meski demikian, Sean mengakui adanya lompatan besar dalam pemrograman, matematika, serta ancaman keamanan siber yang digerakkan AI.

Ancaman pesatnya perkembangan teknologi ini merangsang berbagai respons pencegahan dari industri dan regulator. Bulan lalu, Anthropic mendesak perusahaan AI global untuk menghentikan sementara pengembangan sistem AI tingkat lanjut demi mencegah hilangnya kendali manusia.

Sementara pada 23 Juli, dua anggota Kongres Amerika Serikat merancang UU AI Kill Switch Act. RUU bipartisan ini mewajibkan pengembang menyertakan tombol pematian otomatis untuk menangguhkan atau mematikan program AI yang terindikasi menimbulkan risiko bahaya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author