BMKG Jalankan Modifikasi Cuaca Hadapi El Nino Kuat

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mempercepat operasi modifikasi cuaca di berbagai wilayah Indonesia guna mengantisipasi dampak El Nino yang kini resmi memasuki kategori kuat pada Selasa (28/7/2026).

Langkah darurat ini difokuskan pada pengisian cadangan air waduk serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Penegasan status fenomena iklim tersebut disampaikan langsung oleh otoritas meteorologi nasional di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan indikator utama kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memicu kondisi ekstrem ini.

"Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat. Jadi kita perlu mengantisipasi khususnya pada 2 hal. Yang pertama, antisipasi terkait dengan kekeringan, dan yang kedua terkait dengan kebakaran hutan dan lahan," kata Faisal kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (27/7/2026).

Sebagai langkah penanganan kekeringan, BMKG mengandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana serta pihak swasta untuk mengintervensi awan di atas ratusan infrastruktur penyimpan air vital.

"Kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih," ujarnya.

Guna meminimalkan risiko karhutla, pembasahan lahan gambut dilakukan secara berkala pada wilayah rawan seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

"Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar. Termasuk kita melakukan di Kepulauan Riau juga untuk modifikasi cuaca, dan juga di Aceh, beberapa tempat secara situasional tergantung situasi dan kondisi," ujarnya.

Data BMKG mencatat musim kemarau telah melingkupi 72,8 persen wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim pada Dasarian II Juli 2026. Sebanyak 70 titik pengamatan bahkan mencatat Hari Tanpa Hujan ekstrem panjang melebihi 60 hari di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, dengan rekor terlama 80 hari di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Meski kemarau makin meluas, dinamika atmosfer regional akibat gelombang Kelvin, MJO, dan Bibit Siklon Tropis 92W masih memicu hujan lebat di beberapa wilayah Indonesia bagian barat dan utara seperti Sumatera Selatan, Aceh, serta Sulawesi Utara.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author