Keraton Yogyakarta Mempertahankan Tradisi Lewat 6 Kuliner Khas Berfilosofi

Share

Keraton Yogyakarta tetap menjadi simbol kerajaan yang masih aktif di Indonesia, sekaligus pusat budaya yang melestarikan tradisi kuliner khas berfilosofi mendalam.

Keraton ini dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X yang juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Tradisi kuliner di Keraton bukan sekadar hidangan, melainkan sarat makna yang merefleksikan filosofi dan nilai budaya.

Salah satu hidangan istimewa adalah Songgo Buwono, yang terdiri dari kue sus isi ragout, telur ayam, dan pendamping seperti selada, acar timun, wortel, nanas, serta irisan bawang merah. Nama "Songgo Buwono" berasal dari kata "songga" yang berarti menyangga dan "buwono" berarti bumi, melambangkan hubungan antara bumi dan rakyat. Hidangan ini biasanya disajikan saat hajatan besar atau jamuan tamu penting, dan menjadi favorit Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Gudeg Manggar menjadi varian langka dari gudeg yang menggunakan putik bunga kelapa muda sebagai bahan utama. Berbeda dari gudeg biasa yang berbahan nangka muda, Gudeg Manggar memiliki tekstur renyah dan rasa gurih, serta dianggap sebagai warisan budaya khas Bantul dan Keraton Yogyakarta.

Nasi Blawong adalah nasi rempah tradisional dengan warna merah muda atau kecokelatan. Hidangan ini disajikan secara khusus pada perayaan ulang tahun Sultan, dengan bumbu rempah khas yang menghasilkan aroma dan rasa gurih. Biasanya disertai dengan olahan daging sapi, baceman ayam, telur pindang, dan rempeyek.

Lombok Kethok merupakan hidangan olahan daging sapi atau tetelan yang dimasak dengan bumbu cabai merah dan hijau besar, bawang merah, bawang putih, lengkuas, dan daun salam. Nama "Lombok Kethok" menggambarkan banyaknya potongan cabai besar yang terlihat jelas, menciptakan rasa pedas gurih khas.

Manuk Nom adalah puding tradisional dengan warna hijau yang terbuat dari campuran tape ketan, susu, telur, dan gula. Dinamai "burung muda" karena bentuknya menyerupai anak burung, hidangan manis lembut ini dihidangkan dengan emping melinjo yang ditempatkan seperti sayap burung, melengkapi cita rasa fermentasi khas tape.

Prawan Kenes atau Pisang Kenes adalah kudapan pisang favorit para raja Keraton. Pisang kepok atau pisang raja dibungkus daun pandan dan dikukus setelah dijepit bambu, kemudian disiram santan gurih. Makna namanya "gadis genit" dalam bahasa Jawa, mencerminkan kelezatan dan keunikan rasa manis dengan sentuhan gurih santan.

Berbagai kuliner ini bukan hanya menyajikan cita rasa yang khas, tetapi juga mempertahankan warisan budaya dan filosofi yang kaya dari Keraton Yogyakarta, sebagaimana dikutip dari Detik Food.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author