Gempa M 7,1 Guncang Jepang dan BMKG Pastikan Indonesia Aman Tsunami

Share

Guncangan gempa bumi kuat berkekuatan Magnitudo 7,1 melanda wilayah barat daya Jepang di Pulau Kyushu pada Selasa (28/7/2026) sekitar pukul 16.27 waktu setempat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan peristiwa ini tidak berdampak tsunami di Indonesia.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat skala intensitas seismik mencapai tingkat tertinggi yaitu skala 7 Shindo. Gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif ini memicu kerusakan infrastruktur di sejumlah area pemukiman.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi melaporkan adanya korban cedera serta kerusakan bangunan pascagejolak tektonik tersebut.

"Kami masih melakukan pendataan untuk tingkat cedera dan kerusakan properti, tetapi saya menerima informasi bahwa ada beberapa orang yang terluka," kata Takaichi dalam konferensi pers yang digelar setelah gempa kuat mengguncang Jepang.

Pemerintah setempat langsung mengerahkan tim darurat untuk memadamkan api dan memeriksa fasilitas publik di wilayah terdampak.

"Pemadaman listrik dan kebakaran terjadi di sejumlah wilayah, dengan ruas jalanan dan jembatan mengalami kerusakan dan gedung-gedung ambruk," sebut Takaichi.

Dampak gempa juga melumpuhkan beberapa sarana transportasi. Kendati demikian, fasilitas strategis seperti pembangkit listrik tenaga nuklir di area setempat dilaporkan tidak mengalami gangguan operasional.

Otoritas Regulasi Nuklir Jepang menegaskan tidak ada kelainan sistem pada fasilitas nuklir. Sejalan dengan itu, Kyushu Electric Power menyampaikan tiga reaktor nuklir tetap berjalan normal saat guncangan terjadi.

JMA sempat memprediksi gelombang tsunami setinggi satu meter akan menerjang kawasan pesisir. Namun, peringatan dini tsunami resmi dicabut kurang dari dua jam kemudian karena tidak teramati adanya aktivitas gelombang abnormal.

"Gempa ini terjadi di daratan, dan belum ada aktivitas tsunami yang teramati sejauh ini. Karena alasan ini, kami berharap dapat mencabut peringatan tsunami pada tahap yang relatif awal, tergantung pada kondisi permukaan laut di masa mendatang," kata juru bicara Badan Meteorologi Jepang, dilansir kantor berita AFP, Selasa (28/7/2026).

Dari Jakarta, BMKG memantau secara berkala aktivitas seismik di kawasan Pasifik tersebut untuk mengantisipasi dampak rambatan gelombang.

"Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,8 pada kedalaman 22 km," jelas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangan tertulis.

Pusat gempa terdeteksi berada di darat pada koordinat 32,59° LU dan 130,68° BT, tepatnya 6 km barat daya Uki, Kumamoto. Analisis mekanis menunjukkan pergerakan sesar geser (strike slip).

"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami di wilayah Indonesia," tegas Wijayanto.

Hingga pukul 15.15 WIB, BMKG merekam satu kali gempa susulan berkekuatan M 6,3 di lokasi tersebut.

"Hingga pukul 15.15 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 1 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo M6,3," tambah Wijayanto.

Masyarakat diimbau tidak mudah terprovokasi oleh kabar simpang siur mengenai dampak gempa Jepang di tanah air.

Wijayanto juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Seluruh informasi resmi tektonik global dapat diakses langsung publik melalui saluran komunikasi BMKG yang terverifikasi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author