Warga Palestina Mengalami Larangan Berbicara Bahasa Arab di Tempat Kerja di Israel
Warga Palestina di Israel melaporkan larangan berbicara bahasa Arab di tempat kerja, yang membuat suasana menjadi tegang dan memicu diskriminasi, seperti dialami Salma, seorang karyawan berusia 19 tahun di sebuah toko ritel.
Salma mengatakan manajer toko mengirim pesan lewat WhatsApp yang melarang staf berbicara bahasa Arab dan menegaskan bahwa hanya bahasa Ibrani yang boleh digunakan karena mereka berada di "negara Yahudi".
"Dia mulai berteriak, menendang kotak-kotak, dan mengatakan kepada kami bahwa kami dilarang berbicara bahasa Arab," ujar Salma kepada Middle East Eye.
"Dia memberitahu kami: 'Ini adalah negara Yahudi. Di sini kita hanya berbicara bahasa Ibrani. Bahasa Arab itu untuk di rumah saja," tambahnya.
Semua staf di tempat kerja Salma adalah keturunan Palestina, sementara manajer adalah warga Yahudi Israel. Beberapa staf yang memprotes larangan ini dibiarkan tanpa jadwal kerja selama dua bulan, lalu dipindahkan ke cabang yang sulit dijangkau.
Kasus serupa dilaporkan di beberapa tempat lain, termasuk rumah sakit, apotek, dan toko ritel. Di Jaffa, seorang manajer apotek mengancam karyawan yang berbicara bahasa selain Ibrani dengan alasan menjaga kenyamanan pelanggan yang trauma akibat serangan Hamas pada Oktober 2023.
Warga keturunan Palestina di Israel, yang merupakan penduduk asli wilayah tersebut, saat ini berjumlah sekitar dua juta jiwa, sekitar 20 persen dari populasi Israel, dan mengalami peningkatan diskriminasi sejak serangan 2023, termasuk penangkapan dan kehilangan pekerjaan terkait ekspresi politik.