Aksi Jual Saham Teknologi Picu Kejatuhan Bursa Asia
Gelombang tekanan jual melanda sektor semikonduktor hingga memicu penurunan drastis pada bursa saham Asia pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Sentimen negatif ini dipicu oleh kekhawatiran pemodal atas tingginya kebutuhan pembiayaan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta kehati-hatian menjelang pengumuman suku bunga Federal Reserve.
Di Korea Selatan, Indeks KOSPI mengalami kemerosotan hingga 8,80% ke level 6.161,58. Menurut laporan CNBC dan Reuters, kondisi ekstrem tersebut memaksa Korea Exchange mengaktifkan mekanisme circuit breaker untuk menghentikan perdagangan secara menyeluruh selama 20 menit, setelah sebelumnya sempat memberlakukan penghentian sementara program perdagangan sell-side sidecar.
Aksi lepas saham paling mendalam dialami oleh produsen memori SK Hynix yang jatuh lebih dari 11%, disusul Samsung Electronics yang merosot lebih dari 9%. Tekanan serupa menjangkau emiten pendukung AI lainnya seperti Samsung SDI yang melemah 8% dan Seoul Semiconductor yang terpangkas 7%.
Kelesuan ini merambat ke bursa Jepang, ditandai dengan jatuhnya saham Kioxia sebesar 18% dan Tokyo Electron yang anjlok sekitar 10%. Penurunan tersebut mengikuti tren negatif dari pasar saham AS, tempat indeks Philadelphia Semiconductor dan VanEck Semiconductor ETF terdorong ke zona merah pada sesi sebelumnya.
Sentimen pasar turut terpengaruh oleh isu pergeseran peta persaingan global menyusul laporan mengenai keberhasilan industri domestik China memproduksi mesin litografi immersion deep ultraviolet (DUV) mandiri. Perkembangan itu memicu penurunan harga saham produsen peralatan chip global, ASML, sebesar 8,5%.
"Jelas terlihat adanya optimisme yang meningkat di pasar domestik China mengenai kemampuan negara itu membangun ekosistem AI yang kompetitif secara global," kata Chris Weston, Head of Research Pepperstone.
Selain dinamika teknologi, kondisi makroekonomi global juga dipengaruhi oleh pergerakan komoditas dan kebijakan moneter. Harga minyak mentah Brent berada di posisi US$ 87,55 per barel seiring meredanya ketegangan geopolitik AS-Iran, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melandai ke tingkat 4,64%.
"Perang AS-Iran, melalui dampaknya terhadap harga minyak mentah, masih menjadi faktor terpenting yang akan menentukan arah ekonomi global dalam beberapa bulan mendatang, sekaligus memengaruhi prospek kebijakan bank sentral," kata Thierry Wizman, ahli strategi mata uang dan suku bunga Macquarie Group.
Wizman menambahkan bahwa bank sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan kecenderungan kebijakan yang ketat. Saat ini pelaku pasar menunggu hasil rapat moneter The Fed serta rilis laporan keuangan dari sejumlah korporasi teknologi global seperti Amazon, Meta, Microsoft, dan Apple.