Penyusutan Air Bendungan Karian Memunculkan Kembali Pemukiman Warga
Penurunan debit air akibat musim kemarau menyebabkan area bekas permukiman warga di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, kembali terlihat pada Senin (27/7/2026), dilansir dari Detikcom. Bangunan tanpa atap di kawasan padat penduduk tersebut tampak menyusut usai terendam air selama beberapa tahun.
Surutnya air waduk hingga 5 persen ini membuat struktur bangunan rumah yang ditinggalkan warga menjadi terlihat jelas di permukaan. Kondisi elevasi air dilaporkan mengalami penurunan sekitar 80 centimeter dari batas muka air normal.
Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha BBWS Cidanau Ciujung Cidurian (C3), Maretha Ayu Kusumawati, mengonfirmasi keberadaan bangunan tersebut berada di area hulu genangan.
"Lokasi di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, sudah di area hulu dan awalnya memang merupakan daerah permukiman padat," ujar Maretha Ayu Kusumawati, Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha BBWS C3.
Pihak pengelola tidak melakukan pembongkaran total terhadap rumah-rumah warga saat proses pembebasan lahan dilakukan sebelumnya.
"Kondisi seluruh area genangan, meski sudah dibebaskan, tidak dilakukan demolish untuk seluruh bangunan yang terdampak. Adapun yang dilakukan proses clearing oleh tim konstruksi hanya tanamannya saja," ujar Maretha Ayu Kusumawati.
Penurunan muka air ini juga berpengaruh pada jarak ketinggian antar-elevasi bangunan dengan air waduk.
"Pada Muka Air Banjir (MAB) waduk, sebagian rumah akan tenggelam karena beda tinggi dengan muka air normal sekitar 3,35 m. Elevasi saat ini turun sekitar 80 cm dari muka air normal," kata Maretha Ayu Kusumawati.
Sementara itu, pimpinan BBWS C3 memastikan bahwa pasokan air bagi kebutuhan warga dan pertanian di wilayah hilir tidak terganggu oleh penurunan debit ini.
"Jika di hilir membutuhkan air lebih banyak, masih dapat dikeluarkan dari Karian," ujar Dedi Yudha Lesmana, Kepala BBWS C3.
Fenomena munculnya sisa desa yang tenggelam ini merupakan peristiwa perdana sejak waduk mulai digenangi pada 2023 lalu.
"Karena kemarau ekstrem sepertinya, baru kali ini terlihat," ucap Dedi Yudha Lesmana.
Pada kondisi iklim normal, area sisa permukiman warga tersebut biasanya tidak terlihat secara utuh dari permukaan air.
"(Sebelumnya) hanya sebagian," kata Dedi Yudha Lesmana.
Meski terjadi penyusutan volume air, pihak pengelola menegaskan ketersediaan air waduk masih berada pada batas aman.
Kemunculan kembali sisa bangunan bekas tempat tinggal mereka dimanfaatkan oleh sejumlah mantan warga setempat untuk mendatangi lokasi nostalgia.
"Banyak juga sih yang timbul, kayak di Kampung Susukan, Karian, timbul lagi, soalnya surut. Terus Somang, Desa Sukajaya… Kalau Somang setengahnya. Sukarame," ujar Odon, warga setempat.
Odon menyempatkan diri mendatangi area waduk yang surut tersebut untuk melihat kembali wilayah tempat tinggal lamanya.
"Iya mengenang, mengenang tanah tempat kelahiran dulu," kata Odon.
Para warga yang bermukim di sekitar bendungan memanfaatkan sarana transportasi air rakitan untuk menjangkau lokasi rumah lama mereka.
"Warga di situ yang bikin rakit, kan ada yang kalau yang punya duit membeli perahu," ujarnya Odon.