Teater Nadirah Tampil di SIPFest 2026 dengan Kolaborasi Tiga Negara
Teater Nadirah, yang sebelumnya sukses dipentaskan di Singapura, Kuala Lumpur, dan Tokyo, akan tampil di Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2026 yang berlangsung sepanjang bulan Agustus di Jakarta. Karya ini merupakan hasil kolaborasi tiga negara, menggabungkan naskah karya Alfian Sa'at dari Singapura, sutradara Iedil Dzuhrie Alaudin dari Malaysia, serta para aktor alumni Kelas Akting Salihara yang tergabung dalam AKSARA. Direktur SIPFest, Ening Nurjanah, menyatakan bahwa pertunjukan Nadirah menjadi salah satu yang terpenting dalam festival ini.
"Karya Nadirah yang telah dimainkan di negeri asalnya Singapura, adalah karya yang sangat kuat hubungannya dengan budaya Indonesia. Untuk itu kami akan menampilkan karya ini dengan pemain-pemain dari Indonesia. Kolaborasi tiga negara ini adalah yang pertama kami lakukan," ujar Ening Nurjanah saat jumpa pers di Komunitas Salihara.
Sutradara Iedil Dzuhrie menyampaikan bahwa pentas Nadirah di Jakarta adalah versi keempat dari karya tersebut setelah 10 tahun perjalanan naskah ini. "Buat saya ini naskah personal, karena saya sudah terlibat dari tahun 2012 saat ikut dramatic reading dan berperan di Tokyo, sekarang sebagai sutradara di Jakarta," ujar Iedil Dzuhrie.
Cerita Nadirah mengangkat kisah seorang mahasiswi yang aktif di kelompok Islam dan ibunya, Zahirah, seorang mualaf, menghadapi konflik ketika seseorang yang berbeda agama masuk ke dalam kehidupan mereka. Iedil juga menyoroti sensitivitas isu agama di kawasan Asia, yang menjadi latar penting dalam pertunjukan ini.
"Kolaborasi tiga negara ini melahirkan bahasa budaya yang sangat unik. Naskahnya sangat jujur, tajam, dan dari sisi psikologis isu identitas tanpa melihat sisi doktrinnya, yang akhirnya membahas lanskap urban Islam, bukan cuma di Singapura tapi juga di Asia Tenggara," pungkas Iedil Dzuhrie. Melalui SIPFest 2026 bertajuk asiaria, Komunitas Salihara menegaskan kembali komitmennya sebagai ruang pertemuan seni pertunjukan Indonesia dengan dunia. Festival ini berlangsung selama satu bulan dan menghadirkan karya-karya yang tidak hanya menunjukkan pencapaian artistik para seniman Asia, tetapi juga mengangkat isu-isu yang semakin relevan dalam kehidupan masyarakat Asia saat ini, dilansir dari Detikcom.