Korea Utara Tolak Penghentian Senjata Nuklir Tuntutan ASEAN

Share

Pemerintah Korea Utara menolak keras tuntutan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mengenai pelucutan senjata nuklir di Semenanjung Korea pada Senin (27/7/2026). Pyongyang menegaskan status negara pemilik senjata nuklir tidak dapat diubah.

Sikap tegas tersebut disampaikan oleh Kim Yo Jong, adik dari Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un. Pernyataan ini merespons Forum Regional ASEAN yang diselenggarakan di Filipina, di mana para menteri luar negeri ASEAN menyatakan keprihatinan mendalam atas program rudal dan nuklir Pyongyang.

ASEAN juga mendesak dimulainya kembali dialog damai demi mewujudkan stabilitas kawasan Semenanjung Korea yang bebas nuklir. Namun, Pyongyang menilai desakan tersebut melanggar konstitusi negaranya yang telah mengesahkan status negara nuklir sejak 2023.

Kim Yo Jong menegaskan bahwa program pencegahan nuklir merupakan benteng pertahanan utama bagi kedaulatan nasional negaranya.

"Pendirian DPRK sangat tegas dan jelas bahwa pencegahan nuklir adalah perisai utama bagi kedaulatan nasional dan jaminan tertinggi untuk membela kedaulatan," kata Kim Yo Jong, Pejabat Senior Korea Utara.

Ia juga melontarkan kritik tajam terhadap forum ASEAN yang dinilainya mengekor kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam isu denuklirisasi.

"Merupakan kegagalan dalam pemikiran strategis dan logika serta manifestasi dari mimpi liar yang bodoh dan konyol untuk tetap berpegang pada 'denuklirisasi Semenanjung Korea' yang telah kehilangan maknanya secara konseptual dan praktis," kata Kim Yo Jong, Pejabat Senior Korea Utara.

Korea Utara menyatakan bahwa kapasitas tempur dan persenjataan nuklirnya akan terus diperbarui secara konsisten tanpa henti. Menurut laporan SCMP dan Channel News Asia, kecaman tajam ini menjadi sinyal memudarnya relevansi diplomasi ASEAN bagi Pyongyang.

Pernyataan diplomasi ini keluar di tengah laporan intelijen Ukraina mengenai keterlibatan pasukan militer Korea Utara yang membantu Rusia. Selain itu, Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son Hui juga baru saja melakukan pertemuan resmi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mempererat kerja sama bilateral.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author