Peneliti Temukan Pemandian Kuno Pompeii Terkontaminasi Limbah

Share

Peneliti dari Universitas Johannes Gutenberg (JGU) Mainz, Jerman menemukan bahwa fasilitas pemandian umum kuno di Pompeii terkontaminasi logam berat dan limbah manusia. Hasil riset pada endapan kerak kapur tersebut dipublikasikan di jurnal PNAS pada 12 Januari 2026, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Senin (27/7/2026).

Analisis isotop dan mineral pada Pemandian Republik—fasilitas pemandian tertua dari era pra-Romawi sekitar 130 SM—menunjukkan bahwa airnya berasal dari sumur dalam dan tidak diganti secara berkala. Air tersebut tercemar timbal, seng, tembaga, serta keringat dan urin manusia.

"Di apa yang disebut Pemandian Republik – fasilitas pemandian umum tertua di kota ini, yang berasal dari zaman pra-Romawi sekitar 130 SM – kami dapat membuktikan melalui analisis isotop bahwa air pemandian berasal dari sumur, dan tidak diganti secara teratur," kata penulis utama studi Dr Gul Surmelihindi dari Institut Ilmu Geologi JGU.

Pengambilan air sumur pada era sebelum penjajahan Romawi tahun 80 SM menggunakan mesin beroda penggerak yang dijalankan oleh budak. Pasokan air dari sumur vulkanik tersebut terbatas hanya sekitar 3.200 liter per jam.

"Oleh karena itu, kondisi tersebut tidak memenuhi standar kebersihan tinggi yang biasanya dikaitkan dengan bangsa Romawi," imbuh Surmelihindi.

Kondisi pasokan air mengalami perubahan setelah Romawi membangun saluran akuaduk dari mata air alami. Pembangunan tersebut meningkatkan volume aliran air hingga 50 kali lipat, meski harus dibagikan ke pemandian dan air mancur lain di kota Pompeii sebelum akhirnya terkubur letusan Gunung Vesuvius pada 79 M.

"Mengunjungi pemandian itu pasti merupakan pengalaman yang berisik, meriah, dan mungkin berbau – lebih merupakan acara sosial daripada yang lain," kata rekan penulis studi Profesor Cees Passchier.

Minyak zaitun yang digunakan oleh pengunjung untuk membersihkan tubuh juga ikut mencemari air kolam.

"Orang-orang tidak menggunakan sabun, tetapi minyak zaitun untuk menggosok dan mengikis kotoran, dan sebagian minyak itu akan masuk ke dalam air," imbuh Passchier.

Kualitas kebersihan di area pemandian tetap dianggap buruk meskipun saluran akuaduk Romawi telah beroperasi.

"Para pengunjung kolam renang akan mencemari air dengan berbagai macam luka bernanah, buang air kecil di kolam, berkeringat setelah berolahraga, dan mengikis kulit mati mereka. Saya kira pemandangan yang cukup umum adalah lapisan buih yang keruh dan mengambang," tutur sejarawan Romawi Alexander Meddings.

Para peneliti saat ini tengah mengidentifikasi endapan kerak kapur lebih lanjut melalui analisis DNA untuk memperdalam temuan mengenai kondisi sanitasi pemandian sejarah tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author