Prancis Tunjuk Arsitek Internasional Renovasi Besar Museum Louvre Paris
Pemerintah Prancis resmi menunjuk tim arsitek internasional untuk memimpin proyek renovasi besar-besaran di Museum Louvre, Paris. Langkah ini diambil setelah destinasi wisata global tersebut diterpa berbagai persoalan, mulai dari kasus pencurian perhiasan hingga masalah perawatan bangunan.
Proyek pembenahan bertajuk 'Louvre-New Renaissance' ini merupakan program unggulan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang telah diumumkan sejak tahun lalu. Agenda utamanya mencakup pembuatan ruang khusus untuk lukisan ikonik Mona Lisa serta pembangunan akses masuk baru bagi pengunjung.
Seperti dikutip dari Detik Travel, Pemerintah Prancis menjatuhkan pilihan kepada kolaborasi STUDIOS Architecture Paris dan Selldorf Architects untuk menggarap proyek ini. Tim gabungan tersebut berhasil menyisihkan empat kandidat finalis lainnya dalam proses seleksi oleh dewan juri.
Kementerian Kebudayaan Prancis menjelaskan bahwa proposal dari tim terpilih dinilai paling unggul. Mereka mampu mengintegrasikan aspek arsitektur, pelestarian warisan budaya, tata kota, lanskap, hingga sistem keamanan dengan sangat baik.
"Proposal ini menciptakan hubungan yang elegan antara kota, istana, dan museum," kata pihak Museum Louvre dalam pernyataannya.
Rekam jejak kedua biro arsitek ini memang sudah teruji dalam skala global. STUDIOS Architecture Paris sebelumnya terlibat dalam perancangan Fondation Louis Vuitton di Paris dan Fondation LUMA di Arles, sedangkan Selldorf Architects dikenal lewat pengerjaan Frick Collection di New York serta National Gallery di London.
Anggaran awal untuk mendanai mega proyek ini diperkirakan menyerap biaya sekitar 700-800 juta euro atau setara Rp 14-16 triliun. Kendati demikian, Pengadilan Auditor Prancis memproyeksikan total dana yang dibutuhkan bisa membengkak hingga mencapai 1,15 miliar euro atau sekitar Rp 23 triliun.
Salah satu poin krusial dalam rencana penataan ulang ini berfokus pada penempatan lukisan karya Leonardo da Vinci. Mahakarya Mona Lisa nantinya bakal ditempatkan di sebuah ruangan khusus yang memiliki jalur akses terpisah dari area utama museum, di mana pengunjung diwajibkan membeli tiket khusus.
Selain itu, pihak pengelola akan membangun pintu masuk baru di sisi timur bangunan guna mengurai penumpukan wisatawan. Selama ini, pintu masuk piramida kaca yang dibuka sejak 1988 menjadi akses utama, padahal awalnya hanya dirancang untuk menampung sekitar 4 juta orang per tahun.
Saat ini, volume kunjungan ke Museum Louvre telah melonjak tajam hingga mencapai sekitar 9 juta wisatawan setiap tahunnya. Kompleks bangunan ini sendiri dahulu berfungsi sebagai istana kerajaan Prancis sebelum akhirnya Raja Louis XIV memindahkan pusat pemerintahan ke Palace of Versailles pada akhir abad ke-17.
Upaya renovasi ini sekaligus menjadi jawaban atas rentetan masalah pelik yang mendera Louvre belakangan ini. Selain insiden pencurian perhiasan mahkota Prancis senilai 100 juta USD pada Oktober lalu, museum ini juga sempat diwarnai aksi mogok kerja karyawan, kebocoran air, gangguan keamanan, hingga dugaan penipuan tiket yang memicu kerugian hingga 10 juta euro.