Uji Klinis Ungkap Efektivitas Prosedur IVF Add-Ons

Share

Sebagian besar prosedur tambahan atau IVF add-ons ternyata belum terbukti secara kuat meningkatkan angka keberhasilan program bayi tabung. Informasi ini terungkap melalui riset sistematis yang dimuat dalam The Lancet Obstetrics, Gynaecology & Women's Health, sebagaimana dilansir dari HaiBunda. Metaanalisis tersebut menguji 157 uji klinis acak terkait 10 jenis IVF add-ons yang beredar luas di masyarakat.

Setelah menyaring keandalan data, tim peneliti menyisihkan 72 studi yang bermasalah dan berfokus menganalisis 85 riset berkualitas tinggi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tujuh dari 10 metode IVF add-ons tidak terbukti mendatangkan manfaat nyata atau hanya memiliki bukti yang amat terbatas. Hanya tiga tindakan yang memperlihatkan potensi positif, meski kualitas buktinya masih tergolong lemah.

Peneliti utama Sarah Lensen menyebutkan bahwa promosi layanan di situs medis swasta maupun media sosial sering kali berlebihan. Situasi ini dinilai memicu harapan palsu, membebani biaya pasien, dan memicu tindakan medis yang sebenarnya tidak mendesak.

Berdasarkan laporan ilmiah tersebut, terdapat sejumlah tindakan pendukung IVF yang belum menunjukkan manfaat klinis yang jelas bagi pasien. Prosedur tersebut meliputi akupunktur, terapi kortikosteroid, serta pemeriksaan reseptivitas endometrium (ERA). Selain itu, penggunaan infus intralipid, injeksi intraovarium plasma kaya trombosit, dan infusi intrauterin plasma kaya trombosit juga belum terbukti efektif. Pengujian genetik pra-implantasi untuk aneuploidi juga masuk dalam kategori ini.

Para ahli menekankan bahwa hasil analisis ini bukan berarti prosedur tersebut sepenuhnya tidak berguna. Namun, data saat ini belum mencukupi untuk menjadikannya sebagai tindakan standar bagi seluruh pasien bayi tabung.

Metode IVF Add-Ons yang Memiliki Potensi Manfaat

Di sisi lain, riset mencatat tiga tindakan yang menunjukkan indikasi manfaat positif bagi pasien program bayi tabung. Tindakan pertama adalah EmbryoGlue, yaitu media transfer embrio berisikan asam hialuronat yang berpotensi menaikkan peluang kehamilan. Tindakan kedua adalah endometrial scratching atau pembuatan goresan ringan pada lapisan rahim sebelum proses transfer embrio.

Prosedur ini mengindikasikan adanya peningkatan angka kelahiran hidup, meski masih memerlukan pengujian berskala lebih besar. Metode ketiga yaitu PICSI atau penyaringan sperma berdasarkan kemampuan ikat asam hialuronat guna memilih sel sperma matang. Teknik ini berpotensi menekan risiko keguguran, kendati dukungan bukti ilmiahnya masih terbatas.

"Klinik dan dokter IVF harus mempertimbangkan dengan cermat apakah pantas untuk menawarkan IVF add-ons yang belum terbukti, karena ketersediaannya sering dianggap oleh pasien sebagai dukungan tersirat atas manfaatnya," kata Lensen.

Guna merespons temuan ini, para calon orang tua disarankan melakukan konsultasi mendalam bersama dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas. Diskusi melingkupi analisis risiko, estimasi biaya, dan dasar ilmiah sebelum menyetujui tindakan tambahan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author