LuMin Austin Memanfaatkan Lahan Kampus Guna Mengatasi Kelaparan Mahasiswa

Share

Jaringan Pelayanan Kampus Lutheran atau LuMin Austin secara konsisten menyediakan makanan gratis bagi ratusan mahasiswa University of Texas (UT) Austin setiap hari Selasa melalui program Tailgate Tuesday untuk mengatasi tingginya angka kerawanan pangan di kawasan kampus tersebut.

Program bantuan pangan ini dilatarbelakangi oleh kondisi kedaruratan di mana 47 persen dari total mahasiswa UT Austin mengalami kerawanan pangan. Pihak universitas sendiri dinilai sebagian kalangan kampus belum menangani masalah pemenuhan kebutuhan pangan tersebut secara memadai.

Selain menyediakan makanan siap saji pada hari Selasa, lembaga pelayanan ini juga mengoperasikan lemari pangan gratis yang persediaannya selalu habis dengan cepat demi membantu memenuhi kebutuhan harian para mahasiswa.

Pendeta Kampus LuMin Austin, Brad Fuerst, berada langsung di garis depan untuk mengolah hidangan burger dan berinteraksi aktif dengan para mahasiswa yang datang mengantre.

"It’s the best burger on campus," kata Fuerst dengan bangga.

Para mahasiswa tidak sekadar mendapatkan akses makanan gratis, melainkan juga memperoleh hidangan dengan kualitas yang baik.

"The students don’t just get to eat; they get to eat good," ujar Fuerst.

Program pemenuhan pangan yang dijalankan oleh lembaga ini menjangkau penerima manfaat yang jauh lebih banyak dan beragam dibandingkan dengan jumlah peserta kegiatan ibadah rutin mereka.

"We get a lot of international students," kata Fuerst.

Kehadiran para mahasiswa asing ini memberikan dimensi baru bagi bentuk pelayanan kampus.

"That opens up a whole new possibility for ministry—opportunities to offer space and support for the Hindu students, Sikh students and others that don’t have a dedicated campus ministry or advocacy group," tutur Fuerst.

Lokasi kantor pusat lembaga yang berada di koridor utama perumahan mahasiswa membuat program ini mudah diakses tanpa memerlukan kampanye iklan publik.

"This is a main corridor for students," kata Fuerst.

Mahasiswa biasanya langsung mengetahui keberadaan program pembagian makanan ini ketika mereka sedang berjalan melintas di depan kantor.

"We’ve never had to advertise Tailgate Tuesdays; students learn about it when they’s just walking by," ujar Fuerst.

Format pelayanan di ruang terbuka ini mulai diterapkan sejak masa pandemi COVID-19 untuk menyiasati pembatasan aktivitas dalam ruangan.

"We asked the students what they liked, what they wanted more of," kata Fuerst terkait evaluasi menu berkala.

Dari berbagai pilihan makanan yang pernah diuji coba selama empat tahun terakhir, menu daging panggang menjadi pilihan utama yang paling diminati.

"The clear winner was burgers," ucap Fuerst.

Saat ini, rencana peningkatan kapasitas dapur sedang diupayakan agar mendapatkan sertifikasi komersial sehingga mampu memproduksi ratusan porsi setiap minggu.

Pendanaan besar untuk program kemanusiaan ini bersumber dari kebijakan tata ruang kota Austin pada 2008 yang mengubah kawasan barat kampus menjadi area bernilai ekonomi tinggi.

Paul Collinson-Streng yang menjabat sebagai pendeta LuMin Austin pada masa itu menjelaskan bahwa proses penentuan nasib aset tanah gereja dilakukan secara kolaboratif bersama sukarelawan dan mahasiswa.

"We were considering several options," kata Collinson-Streng.

Pihak pengurus sempat menghadapi beberapa pilihan strategis terkait masa depan bangunan fisik mereka.

"Do we sell and move to a landless ministry? Do we develop? Do we hang on to the building?" ujar Collinson-Streng menceritakan opsi yang ada.

Keputusan akhir untuk mempertahankan lokasi fisik diambil demi menjaga ikatan historis dan pelayanan langsung di tengah komunitas kampus.

"We were one block from campus, and we felt it would be a shame to give that up," tutur Collinson-Streng.

Melepaskan kepemilikan tanah dinilai akan menghilangkan jangkar komunitas yang seharusnya dilayani oleh lembaga.

"If we sold the land, we would no longer have an anchor in the community we’re called to serve. So then the discussion became what was the ‘highest and best use’ of the land for our mission—and housing was the answer," kata Collinson-Streng.

Lembaga kemudian bekerja sama dengan perusahaan pengembang properti Scion Group untuk membangun gedung bertingkat tinggi yang mampu menampung lebih dari 500 mahasiswa.

Melalui sistem kerja sama sewa tanah tersebut, lembaga menerima dana sebesar 100.000 dolar AS per tahun sekaligus hak sewa ruang lantai dasar yang fleksibel untuk fungsi ibadah maupun dapur umum sejak 2016.

Fuerst bersyukur atas fleksibilitas finansial yang tercipta, namun ia berencana menegosiasikan ulang kontrak sewa berikutnya demi menambah jumlah unit hunian yang terjangkau bagi mahasiswa berpenghasilan rendah.

"There isn’t a lot of affordable housing in this building," kata Fuerst menyoroti mahalnya harga hunian saat ini.

Fuerst menegaskan bahwa pemanfaatan ruang publik kampus ini harus mencerminkan nilai-nilai teologis pelayanan yang nyata bagi masyarakat sekitar.

"This place has to be a manifestation of the kingdom that Christ describes in Luke. If the space does not reflect that sermon, then it’s just a cash cow for the church and not for the mission," ujar Fuerst menuntaskan penjelasannya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author