Teror Wabah Siklospora Terbesar di AS dan Krisis Kepercayaan Warga
Banyak orang pernah mengalami diare, sebuah gangguan pencernangan yang kerap dianggap remeh dan berlalu dalam satu atau dua hari. Karena itulah, ketika gejala tersebut menyerang Nick Palmiter pada awal Juli, dia tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Saya akan baik-baik saja," katanya dalam hati.
Namun, gejala tak kunjung mereda. Hari berganti minggu, dan kram perut yang dialaminya menjadi semakin tak tertahankan akibat serangan parasit misterius yang menyebar cepat.
"Saya benar-benar kesakitan," ujar Palmiter. "Sampai pada titik saya harus ke kamar mandi sekitar 15 hingga 20 kali sehari."
Pria berusia 29 tahun itu menggambarkan sensasi yang dirasakannya sebagai tekanan dan gelembung gas yang terus-menerus muncul, hampir seperti ada balon di dalam perutnya. Atas dorongan seorang rekan kerja, Palmiter akhirnya mendatangi fasilitas layanan kesehatan darurat. Setibanya di sana, tim medis memberi tahu bahwa dirinya harus segera dilarikan ke unit gawat darurat rumah sakit.
Di rumah sakit itulah Palmiter mengetahui bahwa dirinya mengidap siklosporiasis, penyakit usus yang terus menyebar di seluruh Amerika Serikat (AS) dan telah menginfeksi ribuan orang di 41 negara bagian. Wabah ini menjadi yang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah negeri Paman Sam.
Michigan mencatat jumlah kasus terbanyak secara nasional, yakni lebih dari 7.000 kasus. Di Monroe County, wilayah pedesaan yang berada di perbatasan timur negara bagian tersebut dan tempat Palmiter tinggal, jumlah kasus yang tercatat juga termasuk yang tertinggi.
"Penyakit ini benar-benar membuat Anda merasa sangat sakit," kata Palmiter mengenai pengalamannya.
"Rasanya seperti Anda sudah tidak memiliki tenaga sedikit pun lagi."
Monroe County memiliki sekitar 154.000 penduduk. Menurut data pemerintah negara bagian, 286 orang di wilayah itu telah terinfeksi siklosporiasis, penyakit yang disebabkan oleh tertelannya parasit Cyclospora dan dapat menimbulkan gejala seperti diare eksplosif. Besarnya dampak wabah di komunitas kecil ini memicu efek berantai yang luas berupa kecemasan massal.
Ibunya, Michelle Palmiter, mengungkapkan hal serupa mengenai situasi mencekam yang dihadapi oleh lingkungan sekitar tempat tinggal mereka sejak wabah merebak luas.
"Saya melihat banyak orang yang panik karena ini," katanya.
Salah satunya adalah keponakannya yang mengosongkan seluruh isi lemari pendingin yang berisi produk segar dan membuang semuanya ke tempat sampah, termasuk semangka yang menurut Michelle masih sangat layak dikonsumsi.
"Alih-alih mencucinya hingga bersih lalu memotongnya, dia langsung membuangnya," kata Michelle.
Diskusi warga Monroe County di media sosial menunjukkan bahwa banyak orang mengambil langkah serupa demi menghindari penularan. Seorang ibu, misalnya, menulis bahwa anak balitanya praktis hidup hanya dengan nugget ayam dan biskuit sejak semua ini dimulai.
Michelle sendiri masih mengonsumsi buah dan sayuran, tetapi hanya yang dimasak terlebih dahulu karena khawatir akan kebersihan bahan mentah.
"Yang pasti saya sama sekali tidak makan di luar," ujarnya.
Menurut Michelle, salah satu penyebab kepanikan di masyarakat adalah cara pemerintah menangani wabah ini yang dinilai tidak memadai dan lambat memberikan kepastian.
"Kami tidak mempercayai apa pun yang mereka sampaikan tentang wabah ini," katanya.
Misteri Sumber Penularan dan Keraguan Publik
Infeksi pertama kali terdeteksi pada 13 Mei, menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). Sejak saat itu, jumlah kasus terus meningkat drastis seiring dengan misteri mengenai sumber utama wabah yang semakin besar.
Restoran dan peritel besar di seluruh AS, termasuk Walmart, Jack in the Box, dan Taco Bell, mengumumkan penarikan sejumlah produk makanan dari peredaran. Pesan yang mereka sampaikan hampir seragam, yakni sebagai langkah kehati-hatian ekstra. Target utama penarikan adalah selada iceberg, namun sumber resmi penyebaran parasit masih belum diketahui pasti.
Francisco Diez-Gonzalez, Direktur Center for Food Safety di College of Agricultural and Environmental Sciences, University of Georgia, mengatakan parasit tersebut bisa sangat sulit dideteksi di laboratorium. Menurut dia, salah satu kendalanya berkaitan dengan teknologi pengurutan genetik yang terbatas untuk jenis parasit ini.
Tantangan lainnya adalah gejala akibat infeksi parasit ini bisa baru muncul beberapa minggu setelah seseorang terpapar. Akibatnya, penyelidik kesulitan menelusuri secara akurat seluruh makanan yang dikonsumsi pasien guna menemukan faktor penyebab yang sama.
Penyelidikan FDA sempat mengarah pada kemungkinan bahwa Taylor Farms menjadi sumber wabah. Perusahaan pemasok bahan pangan besar di AS itu kemudian secara sukarela menarik seluruh produk selada iceberg yang dipasok dari Meksiko bagian tengah.
Penyelidikan tampak mendekati titik terang pada Sabtu lalu ketika FDA mengumumkan bahwa sampel selada iceberg dari Taylor Farms menunjukkan hasil positif mengandung Cyclospora. Namun, kurang dari 24 jam kemudian pada hari Minggu, FDA meralat pernyataan tersebut dan menyatakan hasil itu merupakan positif palsu.
"Kita sedang berhadapan dengan patogen yang memang sangat sulit diteliti di laboratorium," kata Diez-Gonzalez.
"Dalam kasus ini, menemukan beberapa kista Cyclospora dalam sampel selada benar-benar seperti mencari jarum di tumpukan jerami," lanjutnya. "Ini tidak mudah."
Diez-Gonzalez menambahkan bahwa hasil positif palsu bukanlah hal yang luar biasa dalam pengujian semacam ini. Namun, yang menurutnya tidak lazim adalah informasi mentah tersebut terburu-buru diumumkan ke publik sebelum valid.
Dia menjelaskan bahwa hasil pengujian biasanya tidak dipublikasikan sebelum melalui beberapa putaran pemeriksaan untuk mengonfirmasi temuannya demi menjaga kepercayaan publik terhadap otoritas kesehatan negara.
"Apakah mereka memiliki bukti yang cukup kuat untuk mengumumkannya ke publik, itu yang patut dipertanyakan," katanya.
FDA sendiri tidak memberikan respons atau menanggapi permintaan komentar yang diajukan hingga tenggat waktu publikasi artikel ini berakhir. Menurut Diez-Gonzalez, ketidakkonsistenan informasi berisiko membuat konsumen menjadi sangat ragu dan merasa tidak ada lagi pihak yang bisa dipercaya.
Di sisi lain, terdapat perbedaan narasi antara pejabat tinggi dan fakta di lapangan terkait status penanganan wabah nasional ini. Pada Selasa, Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr mengatakan wabah siklosporiasis sudah terkendali dalam sebuah konferensi pers resmi.
Namun pada hari yang sama, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) justru mengumumkan jumlah kasus tertinggi sejauh ini, yakni 4.173 kasus terkonfirmasi, dengan sekitar 7.400 kasus lainnya masih dalam proses penyelidikan intensif. CDC menyebut sebagian besar kasus tambahan tersebut dilaporkan berasal dari Ohio dan Michigan.
Pilihan Sulit Kaum Pekerja
Di Monroe County, tidak semua orang memiliki kemewahan untuk segera berobat ke rumah sakit ketika gejala penyakit mulai menggerogoti tubuh mereka. Brian Clare termasuk salah satu warga yang meyakini dirinya terinfeksi parasit tersebut.
Meski belum pernah mendapatkan diagnosis resmi, dia mengaku telah mengonsumsi raspberi, salah satu buah yang masuk dalam daftar produk yang perlu diwaspadai oleh pemerintah. Menurutnya, itu merupakan satu-satunya produk segar yang dia konsumsi dalam beberapa bulan terakhir sebelum dirinya jatuh sakit.
Clare juga mengatakan sedikitnya lima orang lain di wilayahnya mengalami siklosporiasis dengan gejala serupa. Selama lebih dari tiga pekan, dia harus bergulat dengan berbagai siksaan fisik akibat serangan patogen tersebut.
Di antaranya adalah harus berulang kali terbangun pada malam hari untuk buang air serta mengalami sakit perut yang sangat parah yang menguras seluruh kekuatan fisiknya.
"Ini adalah hal paling menyakitkan yang pernah saya alami seumur hidup," kata pria berusia 52 tahun itu.
Bagi Clare, yang berprofesi sebagai petani gandum dan peternak sapi, menghadapi penyakit ini berarti harus membawa gulungan tisu toilet saat mengendarai traktornya ke ladang. Jika keadaan mendesak, dia terpaksa harus berjongkok di tengah hamparan lahan pertanian miliknya.
"Saat merasa harus pergi ke toilet, Anda punya waktu kurang dari dua menit," ujarnya. "Apa pun yang terjadi, itu akan keluar."
Sebenarnya tersedia antibiotik yang diketahui dapat membantu meredakan gejala infeksi. Clare mendengar obat tersebut telah membantu salah seorang temannya hingga sembuh total, namun hingga kini dia memilih bertahan tanpa bantuan medis.
"Saya tidak punya waktu untuk pergi ke dokter," katanya.
"Kebanyakan petani memang berusaha mengobati diri sendiri. Lagi pula, kami tidak memiliki perlindungan asuransi kesehatan yang bagus."
Meskipun harus melewati masa-masa sulit, wabah siklosporiasis ini memberi Clare sejumlah pelajaran berharga mengenai higienitas pangan sehari-hari. Salah satunya adalah pentingnya mencuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan.
Selain itu, dia kini menjadi jauh lebih selektif dan memperhatikan asal-usul produk makanan yang dibelinya di pasar swalayan.
"Saya tidak akan pernah lagi membeli raspberi di toko sepanjang hidup saya," kata Clare.
"Pengalaman ini benar-benar menyiksa."