IHSG Berpotensi Menguat Terbatas pada Perdagangan 27 Sampai 31 Juli 2026

Share

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia berpeluang mengalami penguatan terbatas pada periode perdagangan 27 hingga 31 Juli 2026. Proyeksi ini muncul setelah indeks utama mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,34 persen ke posisi 6.196,43 pada penutupan pekan sebelumnya.

Pergerakan indeks dipengaruhi oleh aksi lepas portofolio oleh investor asing yang membukukan jual bersih senilai Rp1,2 triliun pada Jumat (24/7/2026), serta akumulasi net sell sepekan yang mencapai angka Rp2,5 triliun.

Perkiraan pergerakan pasar saham untuk sepekan ke depan berada pada rentang batas bawah atau support di level 5.987 dan batas atas atau resistance pada level 6.268.

Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan bahwa pergerakan indeks akan berada dalam bayang-bayang agenda rapat bank sentral Amerika Serikat. Selain itu, pasar juga akan menanti rilis data makro ekonomi AS seperti Produk Domestik Bruto (PDB) serta Personal Consumption Expenditure (CPE) kuartal II 2026.

"Dengan ada tarif impor baru dari AS, kami perkirakan akan berpengaruh terhadap volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan juga inflasi impor," kata Herditya Wicaksana, Analis PT MNC Sekuritas.

Selain dinamika kebijakan tarif impor baru sebesar 10 hingga 12,5 persen yang diberlakukan AS terhadap 60 negara mitra, kondisi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian para pelaku pasar saham.

Kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh level 100 dolar AS per barel akibat konflik tersebut dinilai memperbesar kekhawatiran terhadap potensi lonjakan inflasi global.

Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi AS memicu kekhawatiran bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

"Faktor ketiga, kenaikan imbal hasil obligasi serta kekhawatiran akan ada potensi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuannya lebih tinggi atau higher for longer," kata Herditya Wicaksana, Analis PT MNC Sekuritas.

Meskipun dibayangi berbagai sentimen luar negeri, stabilitas nilai tukar rupiah ditopang oleh keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen. Investor di dalam negeri saat ini juga fokus mencermati publikasi laporan keuangan perusahaan tercatat untuk semester pertama 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author