Jeju Pertahankan Tradisi Haenyeo, Penyelam Perempuan Legendaris Korea Selatan
Jeju menjadi salah satu destinasi wisata utama di Korea Selatan yang tidak hanya menawarkan pemandangan alam dan pantai, tetapi juga tradisi unik berupa aktivitas haenyeo. Haenyeo adalah penyelam perempuan yang mencari hasil laut tanpa menggunakan tabung oksigen.
Aktivitas haenyeo telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jeju selama berabad-abad. Mereka mengandalkan kemampuan menahan napas untuk menangkap abalon, bulu babi, gurita, dan rumput laut secara berkelanjutan. Tradisi ini diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2016 karena mencerminkan harmoni manusia dengan laut dan cara penangkapan yang lestari.
Meskipun jumlah haenyeo kian berkurang karena banyak yang sudah berusia lanjut, komunitas penyelam ini masih aktif di beberapa desa pesisir Jeju, memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menyaksikan tradisi ini secara langsung.
Gujwa-eup, di pesisir timur laut Jeju, menjadi pusat komunitas haenyeo terbesar. Desa Hado-ri terkenal sebagai jantung budaya haenyeo, dengan bangunan bulteok yang dahulu dipakai penyelam menghangatkan tubuh. Pelampung oranye bernama tewak yang mengapung di laut menandai lokasi penyelaman.
Di Sehwa-ri, pengunjung dapat mengunjungi Jeju Haenyeo Museum dan melihat haenyeo yang baru kembali dari laut. Sementara Jongdal-ri menawarkan Haenyeo's Kitchen, sebuah restoran sekaligus ruang pertunjukan yang dioperasikan oleh haenyeo dan keluarga mereka, tempat wisatawan menikmati hasil laut sambil mendengar cerita kehidupan para penyelam.
Aktivitas Haenyeo di Seongsan dan Pulau Udo
Di kaki Seongsan Ilchulbong atau Sunrise Peak, haenyeo senior rutin melakukan demonstrasi menyelam dan menyanyikan lagu tradisional haenyeo sekitar pukul 14.00 waktu setempat, jika cuaca memungkinkan. Pulau Udo yang berdekatan juga memiliki komunitas haenyeo yang masih aktif, berkat kondisi laut yang terjaga baik.
Haenyeo di Aewol dan Hyeopjae
Wilayah pesisir barat laut Jeju seperti Aewol-eup dan Gwakji juga menjadi lokasi pencarian hasil laut oleh haenyeo, terutama di teluk berbatu. Aewol menyediakan program wisata budaya yang memperkenalkan teknik menyelam dasar kepada pengunjung dengan bimbingan instruktur.
Kawasan Hyeopjae, yang menghadap Pulau Biyangdo, dikenal dengan kejernihan air lautnya. Komunitas haenyeo di sini masih aktif sehingga pengunjung berkesempatan menyaksikan langsung aktivitas mereka.
Mencicipi Hidangan Laut Langsung dari Haenyeo
Pengalaman mengunjungi Jeju belum lengkap tanpa mencoba hidangan laut di Haenyeo Chon atau Haenyeo Jip, warung seafood yang dikelola oleh para penyelam. Menu yang disajikan berasal dari hasil tangkapan hari itu seperti abalon dan bulu babi. Wisatawan juga dapat berinteraksi langsung dengan para haenyeo yang masih bekerja.
Tips Melihat Haenyeo Menyelam
Aktivitas haenyeo tidak memiliki jadwal tetap karena bergantung pada pasang surut air laut dan cuaca. Waktu terbaik untuk menyaksikan mereka adalah pagi hari saat air laut sedang surut hingga mulai pasang. Pelampung oranye tewak yang mengapung di laut menjadi penanda keberadaan haenyeo yang sedang menyelam.
Selain itu, pakaian selam hitam yang dijemur di dinding batu di sekitar pelabuhan kecil menandakan komunitas haenyeo masih aktif di lokasi tersebut.
Jeju menawarkan lebih dari sekadar keindahan alam. Tradisi haenyeo yang bertahan ratusan tahun menggambarkan ketangguhan perempuan Jeju yang menjaga kelestarian budaya dan ekosistem laut.