Generasi Muda Mengubah Pola Pengelolaan Tabungan Lewat Digital Banking
Generasi muda mulai mengalihkan pola pengelolaan uang dengan membagi penghasilan ke berbagai pos tabungan sejak hari pertama diterima demi menghadapi ketidakpastian ekonomi dan tingginya biaya hidup.
Pergeseran perilaku ini didorong oleh fleksibilitas layanan digital banking yang memungkinkan alokasi dana secara spesifik sesuai tujuan finansial, sebagaimana dialami oleh nasabah perbankan digital di Jakarta.
Dinda Prameswari (26), seorang karyawan swasta di Jakarta, memanfaatkan fitur bluSaving pada aplikasi blu by BCA Digital untuk memisahkan dananya ke dalam beberapa pos tabungan khusus.
"Begitu gaji masuk, saya langsung bagi dulu. Saya sengaja bikin beberapa bluSaving supaya uangnya tidak bercampur. Jadi saya tahu mana uang yang memang boleh dipakai, mana yang memang harus disimpan," kata Dinda Prameswari, Karyawan Swasta.
Sebelum memanfaatkan fitur pemisahan dana digital tersebut, seluruh penghasilan Dinda terkumpul di satu rekening yang sama sehingga sering memicu penggunaan uang yang tidak terencana.
"Setelah saya ingat-ingat lagi, sebagian sebenarnya buat biaya kuliah atau dana darurat. Karena semuanya campur, saya jadi sering mengambil uang yang seharusnya tidak dipakai," kata Dinda Prameswari.
Saat ini, keberadaan kantong tabungan terpisah membantunya mengontrol pengeluaran konsumtif secara lebih terukur.
"Kalau saldonya belum cukup, berarti memang belum waktunya berangkat. Saya jadi tidak mengambil uang dari tabungan rumah atau dana darurat," ujar Dinda Prameswari.
Bagi Dinda, perubahan cara mengelola uang memberikan sudut pandang baru dalam merencanakan masa depan.
"Sekarang saya tidak lagi melihat saldo. Saya melihat mimpi," kata Dinda Prameswari.
Kondisi serupa dialami oleh videografer freelance Rizky Ananda (28), yang memiliki jadwal penerimaan honor proyek tidak pasti setiap bulannya.
"Dulu semua pembayaran proyek masuk ke rekening yang sama. Lama-lama saya bingung mana uang buat kebutuhan pribadi, mana yang harus dipakai beli alat kerja atau membayar editor," ujar Rizky Ananda, Videografer Freelance.
Sistem alokasi dana terpisah membantu Rizky mengatur anggaran operasional, alat kerja, hingga investasi secara terstruktur.
"Penghasilan saya memang tidak selalu sama setiap bulan. Tapi sekarang saya jauh lebih tenang karena setiap uang yang masuk sudah punya tujuan," kata Rizky Ananda.
Pertumbuhan minat pada pengelolaan uang ini sejalan dengan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) hingga Juni 2026 yang mencatat kenaikan jumlah investor reksa dana sebesar 9,71 persen, di mana 54,12 persen di antaranya merupakan kelompok usia di bawah 30 tahun dengan total aset Rp44,84 triliun.
Perencana Keuangan OneShildt Budi Rahardjo menjelaskan bahwa pemisahan tabungan berdasarkan tujuan membantu memantau pertumbuhan dana sekaligus melindunginya dari kebutuhan konsumtif.
"Cara membagi uang sesuai tujuan penggunaannya ini justru sudah sangat baik. Dengan pemisahan, kita lebih mudah melakukan monitoring pertumbuhannya dan melindungi dana dari penggunaan konsumsi lainnya," kata Budi Rahardjo, Perencana Keuangan OneShildt.
Budi menambahkan bahwa penerapan alokasi keuangan dapat diawali dengan formula sederhana untuk menyeimbangkan kebutuhan dan investasi.
"Aturan dasar 50:30:20 adalah cara paling mudah untuk pemula. Sebanyak 50% untuk kebutuhan rutin, 30% untuk keinginan dan cicilan, serta 20% untuk investasi dan proteksi," ujar Budi Rahardjo.
Sementara itu, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menyoroti tingginya fenomena konsumsi di kalangan pekerja muda akibat sulitnya keterjangkauan aset properti.
"Kalau sudah merasa tidak mungkin membeli rumah, akhirnya uang justru dihabiskan untuk jalan-jalan, konser, atau kebutuhan tersier. Ini yang disebut doom spending," kata Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS.
Dari sisi penyedia layanan, Head of Marketing & Communications BCA Digital Ruli Himawan menyampaikan bahwa fitur investasi digital kini dirancang untuk mempermudah akses bagi pengguna muda.
"Dulu investasi dianggap mahal dan ribet. Sekarang banyak anak muda memilih mulai dari langkah kecil tapi konsisten. Lewat bluInvest kami ingin memastikan langkah itu terasa ringan, relevan, dan bisa dilakukan siapa saja," ujar Ruli Himawan, Head of Marketing & Communications BCA Digital.
Integrasi transaksi harian dan investasi diharapkan mampu membangun kebiasaan finansial yang lebih berkelanjutan.
"Harapan kami, bluInvest bisa menjadi solusi nyata yang memberdayakan generasi muda untuk memulai dan mempertahankan kebiasaan investasi yang sehat. Kami ingin memastikan bahwa berinvestasi bisa semudah aktivitas digital Sobatblu sehari-hari," kata Ruli Himawan.
Saat ini layanan blu by BCA Digital telah mencatatkan lebih dari tiga juta nasabah, dengan porsi pengguna dari kelompok generasi muda mencapai lebih dari 90 persen.