Warga Duren Sawit Jakarta Timur Sulap Sampah Rumah Tangga Jadi Produk Kreatif
Mengubah sampah menjadi produk kerajinan ekonomi kreatif bernilai tinggi menjadi salah satu solusi efektif dalam mengatasi persoalan limbah. Langkah nyata ini sangat penting mengingat tumpukan limbah yang dihasilkan di Jakarta sudah mencapai tujuh ribu ton setiap harinya.
Seperti dikutip dari Detik Travel, warga RW 12, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, kini aktif menyulap limbah rumah tangga menjadi aneka barang bernilai jual. Berbagai produk kreatif yang mereka hasilkan meliputi tas, dompet, tempat tisu, hingga aksesoris unik.
Barang-barang bermanfaat tersebut dibuat dengan memanfaatkan bahan bekas seperti bungkus kopi, kemasan minuman, dan kantong sabun. Selain itu, masyarakat setempat juga memproduksi busana bermotif dedaunan lewat teknik cetak alami atau ecoprint dengan metode kukus yang ramah lingkungan.
Seluruh aktivitas pemberdayaan masyarakat ini berpusat di dua lokasi utama, yaitu rumah warga yang menjadi area kegiatan UP2K serta sanggar belajar Rumah Terampil Hasanah Center.
"Inisiatif ini bermula setelah wilayah kami meraih sertifikasi Program Kampung Iklim tingkat Provinsi DKI Jakarta tahun 2021. Kami prihatin melihat gunungan sampah di TPST Bantar Gebang yang terus meningkat," jelas Siti Munawaroh, Ketua Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) RW 12 Kelurahan Malaka Jaya dikutip dari Antara, Kamis (21/5/2026).
Siti Munawaroh menambahkan bahwa limbah dari aktivitas rumah tangga merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi timbunan sampah di TPST Bantar Gebang. Kondisi tersebut mendorong warga untuk memulai pemilahan limbah langsung dari rumah masing-masing agar bisa diolah kembali.
"Ketika kita melihat gunungan sampah di TPST Bantar Gebang dan melihat potensi sampah yang semakin meninggi, maka kita berusaha memilah sampah dari rumah tangga," ucap Siti.
Kelompok yang beranggotakan 50 warga ini tidak hanya berfokus pada produk daur ulang. Mereka juga dibekali beragam keterampilan lain seperti merajut, pembuatan kerajinan makrame, aksesoris manik-manik akrilik, hingga teknik pewarnaan kain alami.
Masyarakat sekitar juga mengoptimalkan lahan kosong seluas 700 meter persegi untuk memproduksi kompos serta pupuk organik cair (POC). Area tersebut sekaligus dimanfaatkan sebagai lahan pertanian kota atau urban farming demi memperkuat ketahanan pangan lokal.
Siti berharap pihak pemerintah bersedia memperluas jaringan pemasaran bagi produk-produk karya warga ini. Langkah tersebut diharapkan mampu memotivasi lebih banyak masyarakat untuk mengolah limbah menjadi produk bernilai jual demi mendongkrak perekonomian lokal.