Beban Klaim JKN Capai Rp191 Triliun Ditengah Capaian Kepesertaan
Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mengelola layanan kesehatan bagi lebih dari 280 juta peserta, tetapi program ini menghadapi tantangan finansial besar akibat lonjakan beban klaim pelayanan yang menembus Rp191,33 triliun.
Laporan kinerja keuangan BPJS Kesehatan mencatat pengeluaran untuk penanganan penyakit katastropik menyedot 26,28 persen atau sekitar Rp50,3 triliun dari total pembiayaan tersebut. Penyakit Jantung Koroner (PJK) menjadi penyebab utama pengeluaran dengan klaim mencapai Rp17,3 triliun.
Tingginya pembiayaan kesehatan juga mencakup layanan perlindungan bagi kelompok anak-anak. Hingga Juni 2026, sebanyak 71 juta anak usia 0-17 tahun tercatat sebagai peserta aktif JKN. Sepanjang tahun 2025, BPJS Kesehatan telah mengalokasikan dana Rp25,32 triliun untuk pembiayaan medis anak, dengan rincian Rp588,93 miliar di tingkat pelayanan primer dan Rp24,73 triliun di fasilitas rujukan lanjutan.
Kasus penyakit infeksi seperti influenza, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga demam tifoid dan pneumonia mendominasi pemanfaatan layanan medis anak di fasilitas kesehatan.
"Dari besarnya biaya tersebut, gangguan kesehatan pada anak masih didominasi oleh berbagai penyakit infeksi. Di FKTP misalnya, pelayanan paling banyak diberikan untuk kasus flu dengan lebih dari 7,38 juta kunjungan, disusul infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebanyak 7,38 juta kunjungan," ujar Rizzky Anugerah, Kepala Humas BPJS Kesehatan.
Faktor risiko penyakit anak terus ditekan melalui penguatan pencegahan sejak dini di tingkat keluarga dan fasilitas kesehatan.
"Selain itu, demam, gangguan pertumbuhan gigi, diare, radang tenggorokan, batuk, hingga gangguan pencernaan juga menjadi alasan utama anak memanfaatkan layanan kesehatan di FKTP," sambungnya Rizzky Anugerah, Kepala Humas BPJS Kesehatan.
BPJS Kesehatan juga mendorong pendeteksian dini risiko penyakit melalui layanan Skrining Riwayat Kesehatan yang diakses puluhan juta kali oleh peserta.
"Anak berada pada fase pertumbuhan yang sangat menentukan kualitas kesehatannya di masa depan. Melalui Program JKN, anak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan mulai dari FKTP hingga rumah sakit sesuai indikasi medis," ujar Rizzky Anugerah, Kepala Humas BPJS Kesehatan.
Kemudahan akses jaminan kesehatan memberikan kepastian layanan bagi keluarga tanpa harus mengkhawatirkan beban biaya pengobatan.
"Perlindungan tersebut memberikan rasa aman bagi orang tua karena anak dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa terkendala biaya," sambungnya Rizzky Anugerah, Kepala Humas BPJS Kesehatan.
Penguatan keikutsertaan masyarakat terus diimbau agar perlindungan kesehatan keluarga tetap terjamin secara berkelanjutan.
"Sepanjang tahun 2025, layanan Skrining Riwayat Kesehatan telah dimanfaatkan sebanyak 66,19 juta kali oleh peserta JKN. Melalui skrining tersebut, peserta dapat mengenali faktor risiko penyakit lebih dini sehingga langkah pencegahan maupun penanganan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat," tegas Rizzky Anugerah, Kepala Humas BPJS Kesehatan.
Kesiapan kepesertaan aktif diimbau menjadi prioritas setiap keluarga untuk mengantisipasi kebutuhan medis mendesak.
"Perlindungan kesehatan yang optimal tidak hanya dibangun melalui pola hidup sehat, tetapi juga dengan memastikan seluruh anggota keluarga memiliki jaminan kesehatan. Karena itu, kami mengajak masyarakat memastikan kepesertaan JKN tetap aktif agar manfaat Program JKN dapat dimanfaatkan secara optimal ketika dibutuhkan," pungkasnya Rizzky Anugerah, Kepala Humas BPJS Kesehatan.
Meskipun menanggung beban biaya medis yang besar, keberhasilan JKN menjangkau 98 persen populasi Indonesia mendapat sorotan internasional dari lembaga seperti Bank Dunia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu sistem pembayar tunggal terbesar di dunia.