Anggi Marito Ungkap Prinsip Mendidik Anak dan Minta Maaf Pada Buah Hati
Menjadi orang tua mendatangkan proses belajar yang terus berjalan seiring pertumbuhan anak. Pengalaman tersebut kini dirasakan penyanyi Anggi Marito dalam mengasuh buah hatinya bersama sang suami, seperti dilansir dari Detik Health.
Anggi mengungkapkan bahwa dirinya memiliki prinsip sederhana saat mendidik anak, termasuk keberanian untuk meminta maaf. Langkah itu ia lakukan ketika sempat memarahi atau memberikan teguran keras kepada sang buah hati, Gemma.
"Parenting ala aku sebenarnya parenting ala VOC ya. Cuma di satu sisi aku menerapkan untuk bisa selalu meminta maaf sama anak juga ketika kita habis ngasih tahu anak, kita marahin anak. Jadi itu sih yang aku terapin sama Gemma," ujar Anggi kepada detikcom di Jakarta Pusat, Sabtu (25/7/2026).
Sebagai anak tunggal yang terbiasa dimanjakan, Anggi mengaku peran baru ini membawa perubahan besar dalam dirinya. Ia belajar menerima tanggung jawab penuh sebagai sosok utama tempat anak bergantung.
"Yang paling kerasa beratnya menurut aku karena aku sendiri anak tunggal. Dulu selalu jadi princess di rumah. Sekarang harus ngurusin princess. Makin ke sini aku menerima bahwa si kecil ini nggak bisa bergantung sama siapa-siapa kecuali orang tuanya," kata Anggi.
Dalam sesi talkshow bertajuk 'Bertumbuh Bersama Anak, Bertumbuh Sebagai Orang Tua', Psikolog Klinis Anak Ni Ketut Desi Ariani, S.Psi., M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa setiap fase tumbuh kembang anak menjadi momen pembelajaran bagi orang tua.
Saat anak belajar merangkak hingga mengenali emosi, orang tua turut belajar mengendalikan rasa khawatir serta mengelola emosi diri sendiri.
"Ketika anak belajar merangkak, belajar berdiri, orang tua juga sedang belajar melepas kontrol. Ketika anak mulai belajar emosi, justru mamanya dulu yang belajar sabar, papanya dulu yang belajar meregulasi emosi," jelas Desi.
Desi juga menegaskan bahwa tidak ada figur orang tua yang sempurna. Hal terpenting adalah menghadirkan keberadaan yang nyata dan menciptakan rasa aman bagi anak.
"Kita tidak dituntut menjadi orang tua yang sempurna, tapi menjadi orang tua yang hadir dan membuat seseorang jadi aman," ujarnya.