Kemenkes Lakukan Klarifikasi dan Clarify Data Kasus HIV Sidoarjo
Kementerian Kesehatan RI mengajak masyarakat memahami data HIV di Kabupaten Sidoarjo secara utuh. Penambahan temuan kasus merupakan dampak positif dari perluasan layanan deteksi dini di berbagai fasilitas kesehatan, seperti dilansir dari Detik Health.
Data akumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026 mencatat 1.183 kasus HIV pada kelompok usia 0–24 tahun di Sidoarjo. Peningkatan penemuan angka ini mencerminkan jangkauan tes yang makin efektif, bukan serta-merta lonjakan penularan di masyarakat.
Rincian data menunjukkan kelompok usia 0–10 tahun mencatat 117 kasus yang seluruhnya ditularkan secara vertikal dari ibu. Saat ini, 32 anak masih aktif menjalani terapi antiretroviral, 35 anak meninggal, dan 50 anak tercatat tidak lagi terpantau dalam perawatan.
Pada kelompok usia 11–17 tahun, terdeteksi 60 kasus HIV dengan rincian 4 kasus penularan vertikal dan 56 kasus penularan horizontal. Sebanyak 34 remaja masih rutin dalam pengobatan, 7 orang meninggal dunia, dan 19 orang berstatus lepas dari pemantauan medis.
Kasus terbanyak mendominasi kelompok usia 18–24 tahun dengan jumlah 1.006 kasus, di mana 1.005 di antaranya merupakan penularan horizontal. Laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki menjadi populasi terbanyak dengan 521 kasus, disusul populasi yang belum teridentifikasi faktor risikonya sebanyak 210 kasus.
Selain itu, ditemukan pula kasus pada ibu hamil sebanyak 60 orang, pasien tuberkulosis 44 orang, serta pasangan berisiko tinggi 41 orang. Dari kelompok usia ini, 572 orang masih menjalani pengobatan, 123 orang meninggal, dan 311 orang berstatus tidak terpantau.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo membantah narasi di media sosial yang menyebut 522 pelajar di Sidoarjo terpapar HIV. Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina menegaskan klaim tersebut tidak sesuai dengan data resmi.
"Dari 60 kasus itu, sebanyak 7 anak telah meninggal. Sehingga saat ini terdapat 53 anak usia pelajar yang masih teridentifikasi hidup dengan HIV," kata Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina kepada wartawan, Jumat (24/7/2026), dikutip dari detikJatim.
Menanggapi kehebohan di media sosial, Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes telah menerjunkan tim supervisi ke Sidoarjo. Tim melakukan verifikasi data hingga berkunjung ke Delta Crisis Center serta mengevaluasi program pencegahan setempat.
Kemenkes juga memperkuat program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak. Sepanjang 2022 hingga Juni 2026, tercatat 163 ibu hamil dengan HIV di Sidoarjo, dengan rincian 49 kasus pada 2022, 40 kasus pada 2023, 35 kasus pada 2024, 30 kasus pada 2025, dan 9 kasus hingga Juni 2026. Skrining pada ibu hamil terus didorong demi menekan risiko penularan ke bayi hingga di bawah 2 persen.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes dr Andi Saguni, MA, mengingatkan bahwa HIV merupakan kondisi kronis yang dapat dikendalikan dengan terapi antiretroviral.
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak takut melakukan tes HIV apabila memiliki faktor risiko atau direkomendasikan oleh tenaga kesehatan. Mengetahui status HIV sejak dini merupakan langkah penting untuk melindungi diri sendiri, pasangan, dan keluarga. HIV dapat dikendalikan dengan pengobatan yang diminum secara teratur, sehingga orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan tetap berkontribusi bagi masyarakat", ujar Andi, melalui siaran pers yang disampaikan di Jakarta, Sabtu (25/7).