Pedro Acosta Ungkap Alasan Tinggalkan KTM demi Ducati di MotoGP

Share

Pembalap MotoGP Pedro Acosta mengonfirmasi keputusannya untuk meninggalkan KTM dan bergabung dengan Ducati Lenovo pada musim depan demi mengejar ambisi meraih gelar juara dunia. Keputusan tersebut diambil setelah ia belum berhasil meraih podium pertama dalam tiga musim pertamanya di kelas utama bersama pabrikan asal Austria tersebut.

Pembalap Spanyol berusia 22 tahun itu mencatatkan prestasi terbaik sebagai runner-up, termasuk di MotoGP Indonesia. Acosta menilai Ducati sebagai pabrikan yang mampu menyediakan motor tercepat untuk bersaing di papan atas.

Acosta menegaskan komitmen dasarnya saat menandatangani kontrak pabrikan untuk mendapatkan paket motor yang sanggup memenangkan kejuaraan.

"Memang begitulah adanya," kata Acosta seperti dilansir dari Motorsport via Juara.net.

Ia menambahkan bahwa target besarnya membutuhkan fasilitas yang mendukung secara maksimal tanpa menunda waktu.

"Saya sudah mengatakan saat menandatangani kontrak pabrik, bahwa satu-satunya yang saya inginkan adalah motor untuk memenangkan kejuaraan," ujar Acosta.

Kepindahannya ke Ducati Lenovo juga menempatkannya satu tim dengan juara dunia tujuh kali, Marc Marquez.

"Jelas bahwa motor itu belum tiba," jelas Acosta.

Acosta merasa masa pembelajarannya di KTM sudah cukup dan kini membutuhkan tantangan baru.

"Sejujurnya, saya tidak punya waktu lagi untuk disia-siakan," ucap Acosta.

Ia menganggap peralihan ke pabrikan Italia tersebut sebagai langkah logis bagi karier balapnya.

"Saya punya banyak pengalaman di KTM, tetapi saya juga merasa bahwa (Ducati) adalah tantangan yang saya buduhkan untuk karier saya," tambahnya.

Bos KTM Pit Beirer mengakui kekecewaan timnya atas kepergian Acosta yang telah dibina sejak Red Bull Rookies Cup, Moto3, hingga Moto2. Namun, KTM telah mengamankan Alex Marquez dan Fabio di Giannantonio untuk musim mendatang.

"Kami harus menerima kenyataan bahwa Pedro ingin meninggalkan kami karena dia sudah begitu lama bersama kami: Rookies Cup, juara dunia Moto3, juara dunia Moto2, patah kaki, kembali lagi; begitu banyak hal yang telah kami lalui bersama," kata Beirer kepada MotoGP.com.

Beirer menjelaskan bahwa fokus penuh tim sebelumnya memang tertuju pada Acosta.

"Kami hanya membangun proyek ini bersama dengannya sebagai seorang pembalap," tutur Beirer.

Meski sempat membuat frustrasi, KTM kini mengalihkan fokus pada amunisi pembalap barunya.

"Tetapi seperti biasa, hidup terus berjalan. Ada satu momen yang jujur sangat membuat frustrasi karena kami tidak pernah merencanakan pengganti. Kami menaruh semua harapan padanya," ungkap Beirer.

Pihak manajemen KTM optimis dengan jajaran pembalap baru yang mereka rekrut.

"Namun seperti biasa, jika satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka, dan kemudian kita bisa melihat bahwa kedua pembalap ini (Alex Marquez dan Fabio di Giannantonio) berkembang sangat pesat," paparnya.

Acosta menilai susunan pembalap baru KTM tetap kompetitif untuk menghadapi persaingan musim depan.

"Mereka membawa juara dunia (Moto2), Alex, dan seorang pembalap yang saat ini menjadi orang nomor dua di Ducati (Di Giannantonio)," ucap Acosta.

Ia yakin KTM memiliki modal kuat untuk mempertahankan kinerja positif di lintasan.

"Mereka memiliki kartu bagus untuk dimainkan tahun depan," pungkas Acosta.

Sementara itu, pembalap Ducati Fermin Aldeguer dipastikan bergabung dengan tim satelit VR46 untuk musim 2027 dan berpasangan dengan Nicolo Bulega. Aldeguer, yang sebelumnya meraih kemenangan di GP Indonesia bersama Gresini, mengaku memahami keputusan Ducati yang lebih memilih Acosta untuk tim pabrikan.

"Awalnya, agak mengintimidasi," katanya tentang prospek Rossi menjadi bosnya tahun depan seperti dilansir dari Onda Regional de Murcia via Crash.net.

Aldeguer memanfaatkan kesempatan ini untuk menimba ilmu dari legenda balap tersebut.

"Dia tidak akan hadir di setiap balapan, tetapi saya telah diberi tahu bahwa saya dapat menghubunginya dan mengandalkannya untuk segala hal yang berkaitan dengan balapan," ujar Aldeguer.

Saran dari pemilik tim dipandang sebagai modal penting untuk perkembangan kariernya.

"Hanya sedikit orang yang lebih baik darinya untuk dijadikan panutan, dan saya harus memanfaatkannya," tuturnya.

Ia berkomitmen menerapkan masukan yang diterima demi meningkatkan performa di atas trek.

"Sarannya akan membantu saya meningkatkan kemampuan dan menjadi pembalap yang lebih baik," kata Aldeguer.

Aldeguer yang sedang menjalani pemulihan cedera akibat insiden di GP Belanda menganggap wajar keputusan tim pabrikan Ducati mendatangkan Acosta.

"Saya mengerti kenapa mereka memilih Pedro: mereka menginginkan pembalap terbaik. Mereka sudah memiliki saya, serta Marc Marquez, yang masih sangat kuat tetapi tidak ada yang tahu berapa lama dia akan terus berkarier," tambah Aldeguer.

Ia tetap optimistis dengan peluang masanya di masa depan bersama tim pabrikan.

"Saya masih punya banyak waktu untuk masuk ke tim resmi Ducati," tegas Aldeguer.

Dukungan motor spesifikasi pabrikan membuatnya tetap tenang menatap persaingan masa depan.

"Dengan Acosta di satu sisi dan Marc, yang mungkin suatu hari nanti akan pensiun, mereka juga memiliki Fermin Aldeguer yang bisa mencapai level itu," jelas Aldeguer.

Ia yakin kesempatan membela tim utama Ducati akan tiba pada waktunya.

"Dengan motor pabrikan, saya merasakan dukungan mereka, dan saya merasa jauh lebih tenang," ungkap Aldeguer.

Target utamanya tetap menembus jajaran pembalap tim pabrikan Ducati di masa mendatang.

"Saya percaya itu akan terjadi suatu hari nanti. Tujuan saya adalah masuk ke tim pabrikan Ducati, dan Pedro masih memiliki banyak tahun di depannya," pungkas Aldeguer.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Ducati MotoGP Pedro Acosta
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author