Prancis Pernah Rencanakan Laut Buatan di Gurun Sahara untuk Ubah Iklim
Prancis pernah memiliki rencana ambisius untuk mengubah sebagian wilayah Gurun Sahara menjadi laut buatan demi mengubah iklim dan meningkatkan kesuburan lahan. Ide ini muncul pada akhir abad ke-19 dengan tujuan bukan hanya membuka jalur pelayaran baru, tetapi juga menciptakan kondisi iklim lebih lembap yang mendukung pertanian.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui proposal pembangunan kanal dari Teluk Gabès di pesisir Mediterania menuju cekungan Chott el Fejej di Tunisia selatan. Kanal ini dirancang untuk mengalirkan air laut ke cekungan yang berada di bawah permukaan laut agar terbentuk laut pedalaman baru.
Salah satu pelopor proyek ini adalah François Élie Roudaire, seorang perwira Angkatan Darat Prancis, yang bekerja sama dengan Ferdinand de Lesseps, insinyur pembangun Terusan Suez. Mereka berharap keberadaan laut buatan dapat meningkatkan kelembapan udara dan curah hujan, sehingga kawasan sekitarnya menjadi lebih hijau dan subur.
Selain manfaat iklim, laut baru ini juga dinilai dapat membuka jalur perdagangan dan pelayaran yang berpotensi menggerakkan ekonomi wilayah tersebut. Perkiraan biaya proyek mencapai sekitar USD30 juta, menjadikannya salah satu proyek rekayasa lingkungan terbesar pada masanya.
Namun, ide serupa sudah diusulkan sebelumnya oleh insinyur Inggris Donald Mackenzie pada 1877. Ia mengajukan rencana yang lebih besar dengan mengalirkan air dari Samudra Atlantik ke Cekungan El Djouf di Mauritania dan Mali, serta menghubungkannya dengan Sungai Niger melalui kanal tambahan.
Seiring survei lebih mendalam, para ilmuwan semakin meragukan efektivitas laut buatan dalam meningkatkan curah hujan. Beberapa memperingatkan risiko terbentuknya rawa luas yang bisa menjadi sarang penyakit dan serangga. Pemerintah Prancis pun memerintahkan survei lanjutan yang menemukan sebagian area cekungan tidak sepenuhnya di bawah permukaan laut, sehingga pembangunan kanal menjadi lebih rumit dan mahal dari perkiraan.
Akibatnya, pendanaan proyek dihentikan dan ide ini tidak pernah terealisasi. Sekitar 1910, gagasan tersebut sempat dihidupkan kembali oleh profesor Etchegoyen dengan usulan kanal yang lebih besar, namun kembali ditolak pemerintah.
Meski tak terlaksana, konsep Laut Sahara menjadi contoh awal geoengineering berskala besar dan menginspirasi berbagai proyek serupa di abad ke-20, termasuk yang mempertimbangkan teknologi ekstrim seperti ledakan nuklir untuk mengalirkan air ke gurun.
Proyek ini mencerminkan bagaimana manusia sejak lama berupaya mengubah bentang alam dan iklim secara drastis, jauh sebelum isu perubahan iklim mendunia menjadi perhatian utama.
Konten ini dikutip dari Detik iNET.