Gelombang Panas Ekstrem Landa Jepang dengan Suhu Tembus 40 Derajat

Share

Gelombang panas ekstrem melanda Jepang pada Juli 2026 dengan suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celsius di beberapa kota, termasuk Kumagaya, Nagoya, dan Kuwana. Kondisi ini menyebabkan ratusan orang dilarikan ke rumah sakit karena gangguan kesehatan terkait panas.

Menurut Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo, pada 22 Juli 2026 sebanyak 453 orang mendapat perawatan akibat masalah kesehatan yang berhubungan dengan cuaca panas, angka tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2010. Data ini dirilis saat Jepang mencatatkan 14 kematian dalam sepekan terakhir akibat gelombang panas.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat suhu ekstrem hingga 40,6 derajat Celsius di Kuwana dan memperkenalkan istilah "kokushobi" untuk menggambarkan hari dengan suhu sangat panas tersebut. Istilah ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya sengatan panas.

Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang menyatakan bahwa gelombang panas ini adalah bencana karena banyaknya orang yang dirawat dan meninggal dunia akibat heatstroke. Secara nasional, lebih dari 11.000 orang memerlukan perawatan medis darurat dalam sepekan terakhir.

Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, mengimbau pekerja kantoran untuk mengenakan pakaian yang lebih santai seperti celana pendek dan kaos untuk mengurangi konsumsi listrik akibat pendingin udara. Langkah ini merupakan pelonggaran budaya kerja yang selama ini sangat formal.

Para ahli mengingatkan masyarakat untuk tetap terhidrasi dengan minum air putih secara rutin dan menggunakan pakaian longgar serta pelindung seperti topi dan payung saat beraktivitas di luar ruangan. Turis juga berusaha mencari tempat yang ber-AC demi menghindari dehidrasi dan kelelahan akibat panas.

Selain berdampak pada kesehatan, gelombang panas juga memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari olahraga sekolah yang dijadwal ulang hingga petani yang beralih menanam varietas tanaman tahan panas dan alpukat.

JMA mencatat bahwa musim panas 2025 menunjukkan kenaikan suhu rata-rata 2,4 derajat Celsius dibandingkan tiga dekade sebelumnya, dan tanpa pengurangan emisi gas rumah kaca, aktivitas di luar ruangan diperkirakan akan sangat terbatas pada dekade mendatang.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: cuaca panas Jepang kesehatan
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author